Suatu hari one of my student tell her secret. Just a little secret she said. Dia menceritakan kalau susternya, her nanny, punya pacar 3 orang, di tiga tempat yang berbeda. Gadis cantik ini menceritakan dengan tepat dimana saja 3 pria itu tinggal. Dan mengagetkan saya, ia sangat bangga menceritakannya. Dan dalam kebanggaan itu seperti ada sense bahwa ia ingin seperti her nanny when she grow up later. Aneh.
Tentu saja aku harus memutar otak untuk menjawabnya. Aku tidak tau bagaimana tepatnya untuk menghandle anak, tetapi aku berusaha menasehatinya.
Aku katakan kepadanya, "Menurut kamu, apakah kamu senang kalau kamu punya papa baru, atau mama baru di rumah?"
Dia menggeleng, "it's bad".
Dan aku menjawabnya "off course, when family have a new mom or new dad, kids must be broken. Pacaran tujuannya untuk menikah. Kalau mama punya 3 papa, gimana jadinya? Kalau nanti dia punya anak, apa anaknya ga sakit hati? it's bad, right? So... you can tell to your nanny, ga baik punya pacar banyak".
Tampilkan postingan dengan label parenting. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label parenting. Tampilkan semua postingan
Minggu, 03 Februari 2013
Rabu, 30 Januari 2013
Orang Tua dan Anak
Kemarin aku belajar banyak tentang parenting. Bukan mendengar seminar tetapi melalui pengalaman, ngobrol dan mengolahnya dalam pikiran. Topik parenting ini masih asing bagiku karena kami belum punya anak. Tetapi sejak SMU aku suka mengajar, dan kebanyakan objeknya adalah anak-anak, jadi pengalaman untuk mengajar anak-anak sudah ada walau tidak banyak. Aku hanya suka mengajar. Dengan mengajar anak-anak tidak berarti aku suka anak-anak. Sebenarnya aku lebih suka ngajar orang dewasa, hanya saja aku suka tantangan untuk mengajar anak-anak. Rasanya sulit untuk menghandle mereka. Mereka membuat keributan, pemberontakan dan hanya sedikit dari mereka yang cooperative.
Aku sering mendengarkan curhatannya mereka. Mereka adalah anak SD kelas 2-6. Topik utamanya adalah bahwa mereka STRESS. Sekolah bukan tempat menyenangkan bagi mereka. Setiap hari mereka kekurangan jatah untuk bermain. Setiap hari hanya dijajali dengan pelajaran-pelajaran sekolah. Pulang sekolah rata-rata jam 1.30 pm, tetapi langsung ada remedial sampai jam 3 pm. Setelah itu mereka diwajibkan untuk ikut les bimbel/ math sampai 4.30 pm, setelah itu harus ikut les mandarin atau robotic or what else. Aktivitas itu berlangsung dari senin sd jumat. Ada juga anak yang hari sabtunya masih les cooking, music, dll. Itulah sebabnya mereka jadi kurang konsen di kelas dan cenderung untuk berlari-lari di kelas, memberontak dan membuat keributan.
Aku sering mendengarkan curhatannya mereka. Mereka adalah anak SD kelas 2-6. Topik utamanya adalah bahwa mereka STRESS. Sekolah bukan tempat menyenangkan bagi mereka. Setiap hari mereka kekurangan jatah untuk bermain. Setiap hari hanya dijajali dengan pelajaran-pelajaran sekolah. Pulang sekolah rata-rata jam 1.30 pm, tetapi langsung ada remedial sampai jam 3 pm. Setelah itu mereka diwajibkan untuk ikut les bimbel/ math sampai 4.30 pm, setelah itu harus ikut les mandarin atau robotic or what else. Aktivitas itu berlangsung dari senin sd jumat. Ada juga anak yang hari sabtunya masih les cooking, music, dll. Itulah sebabnya mereka jadi kurang konsen di kelas dan cenderung untuk berlari-lari di kelas, memberontak dan membuat keributan.
Langganan:
Postingan (Atom)