Hanya pikiran spontan... hanya belajar...

Rabu, 02 Mei 2012

Yesus sebagai Mesias


1.      . Pendahuluan

Mesias, “khristos”, atau Kristus artinya “Yang Diurapi”.

“Andreas mula-mula bertemu dengan Simon, saudaranya, dan ia berkata kepadanya: "Kami telah menemukan Mesias (artinya: Kristus)."  Yoh 1:41

Mesias adalah gelar tertinggi dari tokoh penting yang dinantikan oleh bangsa Yahudi. Luk 3:15 mengatakan orang-orang yang menantikan Mesias itu bertanya-tanya apakah Yohanes Pembaptis itu adalah Mesias?

Gereja Kristen mula-mula melekatkan gelar ini kepada Yesus, sehingga orang-orang percaya pada waktu itu disebut orang Kristen, karena mereka adalah pengikut Kristus. Orang Yahudi keberatan untuk menyebutkan orang-orang percaya sebagai pengikut Mesias, karena orang-orang Yahudi menganggap bahwa orang-orang lain (jemaat Kristen pada waktu itu) tidak mempunyai hak untuk melekatkan gelar Mesias kepada Yesus. Orang Yahudi tidak menerima kalau Yesus disebut Mesias, sehingga sebutan Mesias untuk Yesus itu mereka anggap sebagai ejekan, begitu juga dengan sebutan ‘orang Kristen’ atau ‘pengikut Kristus’.


“dan berkata: "Cobalah katakan kepada kami, hai Mesias, siapakah yang memukul Engkau?" Mat 26:68
“Baiklah Mesias, Raja Israel itu, turun dari salib itu, supaya kita lihat dan percaya." Bahkan kedua orang yang disalibkan bersama-sama dengan Dia mencela Dia juga”. Mark 15:32
Orang banyak berdiri di situ dan melihat semuanya. Pemimpin-pemimpin mengejek Dia, katanya: "Orang lain Ia selamatkan, biarlah sekarang Ia menyelamatkan diri-Nya sendiri, jika Ia adalah Mesias, orang yang dipilih Allah." Luk 23:35
“… sebab orang-orang Yahudi itu telah sepakat bahwa setiap orang yang mengaku Dia sebagai Mesias, akan dikucilkan”. Joh 9:22
Yesus sama sekali tidak diterima sebagai Mesias oleh orang Yahudi. Sampai sekarang pun orang-orang Yahudi masih menantikan Mesias bagi mereka. Di antara orang Yahudi sering terjadi perdebatan apakah Yesus itu benar-benar Mesias atau bukan?

Yang lain berkata: "Ia ini Mesias." Tetapi yang lain lagi berkata: "Bukan, Mesias tidak datang dari Galilea! Karena Kitab Suci mengatakan, bahwa Mesias berasal dari keturunan Daud dan dari kampung Betlehem, tempat Daud dahulu tinggal." Jawab orang-orang Farisi itu kepada mereka: "Adakah kamu juga disesatkan? Adakah seorang di antara pemimpin-pemimpin yang percaya kepada-Nya, atau seorang di antara orang-orang Farisi? Tetapi orang banyak ini yang tidak mengenal hukum Taurat, terkutuklah mereka!" Nikodemus, seorang dari mereka, yang dahulu telah datang kepada-Nya, berkata kepada mereka: "Apakah hukum Taurat kita menghukum seseorang, sebelum ia didengar dan sebelum orang mengetahui apa yang telah dibuat-Nya?" Jawab mereka: "Apakah engkau juga orang Galilea? Selidikilah Kitab Suci dan engkau akan tahu bahwa tidak ada nabi yang datang dari Galilea." Yoh 7:41-52

Pentingnya gelar Mesias bagi orang Yahudi dapat dilihat pada 4 sumber utama agama Yahudi pada zaman itu, yaitu
- Perjanjian Lama,
·         -  Tulisan Apokrifa dan Pseudepigrafa,
·         -  Naskah-naskah Laut Mati (Qumran) dan
·         -  Tulisan-Tulisan para Nabi.

Adapun yang dapat kita lihat dengan jelas adalah sumber dari Perjanjian Lama, terutama dalam kitab nabi-nabi. Di situ tertulis tentang ‘masa kemesiasan’ yang menawarkan masa depan yang cerah bagi umat Allah (Yes 26-29, 40; Yes 40-48; Dan 12; Yoel 2:28-3:21), tetapi sedikit sekali yang menjelaskan tentang Mesias yang menyelamatkan. Bagi orang Yahudi, tokoh yang membuka zaman yang akan datang adalah Allah sendiri. Jadi Mesias bagi mereka akan jadi seperti tokoh politik tetapi cenderung kea rah agama, yang akan membebaskan mereka dari kesusahan-kesusahan. Mesias akan datang dan berasal dari keturunan Raja Daud (jadi Mesias itu juga adalah raja), yang akan mendirikan kerajaan di dunia bagi umat Israel dan akan menghancurkan musuh-musuh Israel.

Tokoh-tokoh “yang diurapi” dalam Perjanjian Lama adalah imam dan raja (Im 4:1-5), nabi (1Raj 19:16), bapak leluhur Israel (Mzm 105:15; Roma 9:5) dan bahkan raja kafir, Raja Koresh (Yes 45:1). Pengurapan itu menunjukkan suatu pengesahan untuk mengemban tugas khusus, yaitu untuk orang yang dipilih Allah untuk menyelamatkan umat-Nya. Imam, raja, nabi dan leluhur Israel adalah Mesias yang diharapkan oleh Israel. Ada sekelompok orang yang mengatakan Mesias sebagai nabi yang terpenting, ada sekolompok lain yang mengatakan Mesias sebagai Raja yang terpenting, sesuai dengan keyakinan mereka masing-masing. Bagi orang Yahudi, pengharapan Mesias yang terpenting adalah Mesias sebagai raja, yaitu berasal dari keturunan Raja Daud.

Pada naskah-naskah Laut Mati, ada 2 orang Mesias, yaitu seorang dari kaum Harun dan dan seorang lagi dari kaum Israel. Persekutuan di Qumran merupakan masyarakat imam, maka tidak heran bagi mereka lebih penting Mesias dari Harun (Mesias sebagai imam) daripada Mesias dari Israel. Namun sampai sejauh mana kepentingan perbedaan pandangan tentang Mesias ini bagi Perjanjian Baru masih diperdebatkan. Sedikitnya hal itu membuktikan adanya pandangan yang berbeda-beda tentang karakter yang tepat dari jabatan/ gelar dari Mesias.

Ketika Perjanjian Baru menggunakan istilah “Mesias” itu, para penulis menunjukkan atau  memperhatikan pengertian yang paling popular dari istilah itu. Sudah tentu pemikiran popular  cenderung pada pengharapan akan kedatangan seorang pemimpin popular yang akan membebaskan orang-orang Yahudi dari beban tekanan Roma. Itulah sebabnya mengapa Yesus menghindar ketika orang-orang ingin menjadikannya raja atau menjadikanNya Mesias dalam pengertiannya mereka.

“Karena Yesus tahu, bahwa mereka hendak datang dan hendak membawa Dia dengan paksa untuk menjadikan Dia raja, Ia menyingkir pula ke gunung, seorang diri”. Joh 6:15
“Dari banyak orang keluar juga setan-setan sambil berteriak: "Engkau adalah Anak Allah." Lalu Ia dengan keras melarang mereka dan tidak memperbolehkan mereka berbicara, karena mereka tahu bahwa Ia adalah Mesias”. Luk 4:41
Lalu Yesus melarang murid-murid-Nya supaya jangan memberitahukan kepada siapapun bahwa Ia Mesias. Mat 16:20

2.      Mesias dalam kitab Injil Sinoptik

Dalam Injil Sinoptik (Matius, Markus, Lukas), sedikitnya Yesus tiga kali menyatakan diri, tetapi dua kali gelar Mesias itu dijadikan bahan olokan saja. Hanya sekali saja Ia menyatakan diri dengan jelas kepada murid-muridNya dan murid-muridNya percaya.

Yesus di hadapan Imam Besar Kayafas.
Tetapi Yesus tetap diam. Lalu kata Imam Besar itu kepada-Nya: "Demi Allah yang hidup, katakanlah kepada kami, apakah Engkau Mesias, Anak Allah, atau tidak." Jawab Yesus: "Engkau telah mengatakannya. Akan tetapi, Aku berkata kepadamu, mulai sekarang kamu akan melihat Anak Manusia duduk di sebelah kanan Yang Mahakuasa dan datang di atas awan-awan di langit." Maka Imam Besar itu mengoyakkan pakaiannya dan berkata: "Ia menghujat Allah. Untuk apa kita perlu saksi lagi? Sekarang telah kamu dengar hujat-Nya. Bagaimana pendapat kamu?" Mereka menjawab dan berkata: "Ia harus dihukum mati!" Lalu mereka meludahi muka-Nya dan meninju-Nya; orang-orang lain memukul Dia, dan berkata: "Cobalah katakan kepada kami, hai Mesias, siapakah yang memukul Engkau?" Mat 26:63-68

Yesus di hadadapan Pilatus
Di situ mereka mulai menuduh Dia, katanya: "Telah kedapatan oleh kami, bahwa orang ini menyesatkan bangsa kami, dan melarang membayar pajak kepada Kaisar, dan tentang diri-Nya Ia mengatakan, bahwa Ia adalah Kristus, yaitu Raja." Pilatus bertanya kepada-Nya: "Engkaukah raja orang Yahudi?" Jawab Yesus: "Engkau sendiri mengatakannya." Luk 23:2-3

Yesus dan murid-muridNya
Lalu Yesus melarang murid-murid-Nya supaya jangan memberitahukan kepada siapapun bahwa Ia Mesias. Sejak waktu itu Yesus mulai menyatakan kepada murid-murid-Nya bahwa Ia harus pergi ke Yerusalem dan menanggung banyak penderitaan dari pihak tua-tua, imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, lalu dibunuh dan dibangkitkan pada hari ketiga. Mat 16:20-21

Pengakuan Petrus (Mat 16:13-20; Mark 8:27-30; Luk 9:18-21)

Sebelum Yesus menyatakan diri sebagai Mesias kepada murid-muridNya, ia bertanya kepada Petrus, salah satu murid yang terkenal dengan keberanian dan komitmennya. Yesus sepertinya sengaja mendesak pengakuan Petrus akan diriNya (Yesus). Pengakuannya juga dapat menyatakan pengertian, pengenalan ataupun pola pikir tentang siapa itu Mesias. Apakah pola pikir Petrus menganggap Mesias seperti orang-orang pada umumnya yang mengandung makna politik?

Lalu Yesus bertanya kepada mereka: "Tetapi apa katamu, siapakah Aku ini?" Maka jawab Simon Petrus: "Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup!" Kata Yesus kepadanya: "Berbahagialah engkau Simon bin Yunus sebab bukan manusia yang menyatakan itu kepadamu, melainkan Bapa-Ku yang di sorga. Mat 16:15.

Ia bertanya kepada mereka: "Tetapi apa katamu, siapakah Aku ini?" Maka jawab Petrus: "Engkau adalah Mesias!" Mar 8:29 

Yesus bertanya kepada mereka: "Menurut kamu, siapakah Aku ini?" Jawab Petrus: "Mesias dari Allah." Luk 9:20 

Walaupun dari ketiga penulis Injil Sinoptik menuliskan dengan bentuk yang berbeda, namun ketiganya menjelaskan bahwa Yesus adalah Mesias, bukan dalam pengertian politis yang akan mendirikan kerajaan secara fisik di bumi tetapi memiliki arti rohani. Dialah yang akan menggenapi  yang tertulis dalam Perjanjian Lama, Dialah yang akan menyelamatkan umat-Nya dalam pengertian rohani.
 
Kemudian ada hal yang aneh di sini, sepertinya agak kontra. Ketika Yesus menyatakan diri sebagai Mesias, Yesus menyuruh mereka untuk tidak memberitahukan kepada siapapun kalau Dia adalah Mesias. Yesuspun mulai memberitahukan kalau Ia akan menanggung banyak penderitaan dan akan dibunuh (Mat 16:21-23). Petrus tidak begitu setuju dengan pemberitahuan penderitaan yang akan Yesus alami. Menurut pengertiannya sendiri bahwa tidak mungkin Mesias harus menderita, karena dalam tradisi Yahudi itu Mesias adalah Raja yang menyelamatkan. 

Pengertian rohani yang diperlukan untuk mengenal karakter yang benar dari peran Mesias yang dimiliki Yesus  adalah pemberian Allah. Pengakuan Petrus akan Yesus sebagai Mesias adalah berasal dari Allah sendiri. Tetapi ketika ia menggunakan pengertian konsep yang beredar dalam tradisi Yahudi, ia seperti orang kerasukan setan (Mat 16:23). Dari sini dapat dimengerti bahwa orang banyak tidak mempunyai pengertian yang demikian terhadap Mesias, sehingga cukup dapat dibenarkan adanya perintah untuk tinggal diam.

3.      Mesias dalam Injil Yohanes
Pengharapan orang Yahudi akan kedatangan Mesias yang akan menyelamatkan mereka dari penderitaan mereka di bawah pemerintahan Romawi dapat di lihat di awal Injil Yohanes. Bahkan Yohanes sendiri bertanya-tanya.

Di dalam penjara Yohanes mendengar tentang pekerjaan Kristus, lalu menyuruh murid-muridnya bertanya kepada-Nya: "Engkaukah yang akan datang itu atau haruskah kami menantikan orang lain?" Yesus menjawab mereka: "Pergilah dan katakanlah kepada Yohanes apa yang kamu dengar dan kamu lihat: orang buta melihat, orang lumpuh berjalan, orang kusta menjadi tahir, orang tuli mendengar, orang mati dibangkitkan dan kepada orang miskin diberitakan kabar baik. Dan berbahagialah orang yang tidak menjadi kecewa dan menolak Aku." Mat 11:2-6.

Rasa penasaran orang-orang Yahudi itu pun disampaikan dengan mengirimkan beberapa imam dan orang Lewi kepada Yohanes dan bertanya, namun Yohanes dengan tegas menyatakan diri. Dan juga kesaksian Yohanes tentang dirinya kepada murid-muridnya (Yoh 3:28).

Ia mengaku dan tidak berdusta, katanya: "Aku bukan Mesias." Yoh 1:20
Mereka bertanya kepadanya, katanya: "Mengapakah engkau membaptis, jikalau engkau bukan Mesias, bukan Elia, dan bukan nabi yang akan datang?" Yoh 1:25
Kamu sendiri dapat memberi kesaksian, bahwa aku telah berkata: Aku bukan Mesias, tetapi aku diutus untuk mendahului-Nya. Yoh 3:28

Kemudian sebutan atau gelar Mesias ini juga digunakan oleh Andreas untuk memberitahukan Petrus, saudaranya. Dan juga di ayat 45. Ini adalah pengertian murid-murid terhadap apa yang tertulis di Perjanjian Lama. Pengenalan ini adalah kesan pertama yang merupakan pandangan sekilas. Sebenarnya mereka belum betul-betul mengenal Mesias. Perlu waktu dan proses untuk mengenal Mesias.

Andreas mula-mula bertemu dengan Simon, saudaranya, dan ia berkata kepadanya: "Kami telah menemukan Mesias (artinya: Kristus)." Yoh 1:41
Filipus bertemu dengan Natanael dan berkata kepadanya: "Kami telah menemukan Dia, yang disebut oleh Musa dalam kitab Taurat dan oleh para nabi, yaitu Yesus, anak Yusuf dari Nazaret." Yoh 1:45

Dalam kitab Injil, setidaknya ada dua kali Yesus menyatakan diri sebagai Mesias dan diterima. Pertama adalah Yesus menyatakan diri kepada murid-muridNya. Kali kedua adalah dalam Injil Yohanes ini, ketika “Percakapan Yesus dengan Perempuan Samaria”. Bagi orang Samaria, pengertian Mesias itu berbeda dengan orang  Yahudi (yang mengarah kepada kepentingan politik). Pengertian perempuan Samaria ini mengenai Mesias adalah  seorang pembaharu, seorang yang menyatakan segala sesuatu, menjelaskan segala sesuatu (Ul 18:15; Yes 2:3). Perempuan Samaria ini menjadi percaya kepada-Nya ketika Yesus menyentuh pengertian perempuan ini, Yesus memberitahukan siapa dirinya, tentang status pernikahannya, tentang sesuatu yang disembunyikannya.

Jawab perempuan itu kepada-Nya: "Aku tahu, bahwa Mesias akan datang, yang disebut juga Kristus; apabila Ia datang, Ia akan memberitakan segala sesuatu kepada kami." Kata Yesus kepadanya: "Akulah Dia, yang sedang berkata-kata dengan engkau." Yoh 4:25-26

Injil Yohanes mencatat pandangan umum tentang Mesias:
·         Mesias tidak diketahui darimana asalnya
Tetapi tentang orang ini kita tahu dari mana asal-Nya, tetapi bilamana Kristus datang, tidak ada seorangpun yang tahu dari mana asal-Nya." Yoh 7:27

Ini bukan tentang darimana Mesias akan lahir, karena mereka sudah tau dimana Mesias lahir, yaitu di Betlehem. Maksud ayat ini adalah seharusnya siapa orangtua Mesias tidaklah diketahui. Tetapi mereka mengenal siapa bapaknya, ibunya bahkan saudara-saudaranya.

Kata mereka: "Bukankah Ia ini Yesus, anak Yusuf, yang ibu bapanya kita kenal? Bagaimana Ia dapat berkata: Aku telah turun dari sorga?" Yoh 6:42

·         Mesias bukan berasal dari Galilea
Yang lain berkata: "Ia ini Mesias." Tetapi yang lain lagi berkata: "Bukan, Mesias tidak datang dari Galilea! Karena Kitab Suci mengatakan, bahwa Mesias berasal dari keturunan Daud dan dari kampung Betlehem, tempat Daud dahulu tinggal."  Yoh 7:41-42

Orang Yahudi tentunya sudah mengetahui nubuatan tentang kelahiran Mesias. Mesias akan lahir di Betlehem (Mat 2:4-5). Pada waktu itu yang mereka ketahui adalah Yesus tinggal di Nazareth, Galilea. Dan asumsinya Yesus lahir di Galilea. Jadi mereka menolak Yesus karena mereka pikir Yesus lahir di Nazareth, Galilea.


·         Mesias akan hidup untuk selama-lamanya
Menurut kitab suci Perjanjian Lama, Mesias akan hidup selama-lamanya (Mzm 110:4; Yes 9:7; Yez 37:25; Dan 7:14), tetapi Yesus memberitahukan bagaimana Ia harus mati, yaitu tergantung di atas kayu salib, dalam text disebutkan “ditinggikan dari bumi”.

Lalu jawab orang banyak itu: "Kami telah mendengar dari hukum Taurat, bahwa Mesias tetap hidup selama-lamanya; bagaimana mungkin Engkau mengatakan, bahwa Anak Manusia harus ditinggikan? Siapakah Anak Manusia itu?" Yoh 12:34

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar