Hanya pikiran spontan... hanya belajar...

Rabu, 19 Maret 2014

Mengasihi dan Tujuan

Mungkin ini bukan artikel yang fenomenal bagus, tapi gw berusaha untuk membuat tulisan ini seperti tulisan yang fenomenal. haha. *ngarep*. Ngga sih... ini hanya pemikiran gw selama beberapa hari terakhir ini. Gw hanya merenungkan suatu pemikiran yang agak "mengganggu". Dan karena pemikiran ini bertahan lebih dari dua minggu, dia layak untuk dituliskan. Mana tau ini beneran fenomenal. Kalau pembaca tidak setuju dengan saya, ya ga masalah, saya juga masih berhipotesa dan mencocokkannya dengan beberapa hal. Ingat apa yang pernah saya tuliskan tahun lalu, mengapa para pembicara internasional bisa terlihat sangat keren dengan pemikiran-pemikirannya? ya karena mereka punya waktu untuk duduk dan memikirkannya, berhipotesa, menguji hipotesanya, dan pada akhirnya mengambil kesimpulan. Walaupun sudah mengambil kesimpulan mereka tetap terbuka terhadap hipotesa itu.

Ini yang gw pikirkan, yaitu hubungan antara Cinta dan Tujuan. menurut gw, cinta tidak dapat dijadikan tujuan ataupun alasan untuk melakukan sesuatu. Dalam hal ini gw mau membandingkan dua hal:
1. Hubungan Tuhan dengan manusia.
2. Hubungan antara laki-laki dengan perempuan dalam pernikahan

Agak sulit untuk menjelaskan pemikiran ini karena gw belum jadi pembicara internasional. haha.

Pertama kali gw menyadari hal ini waktu gw memfasilatasi suatu kelas belajar alkitab. Gw memang bukan bagian grup Roma, tetapi gw hanya membantu mengarahkan group ini. Ketika membantu mereka, gw hanya cerita latar belakang dari awal penciptaan, sebenarnya gw pelajari ini ketika belajar Surat Efesus.
Dengan menciptakan polemik dalam group ini, Gw hanya bertanya, "napa sih Yesus mau turun ke dunia ini?".
Kemudian mereka menjawab "karena Yesus mengasihi dunia", "untuk menyelamatkan manusia dari dosa"
Gw jawab, "dunia identik dengan sesuatu yang jahat, berosa. Inget ga waktu Yesus disalib, bapa memalingkan muka sehingga Yesus berteriak "Bapa kenapa Engkau meninggalkan Aku?", dan juga Yesus bilang dalam kitab Yohanes, kalau Yesus tidak berdoa untuk dunia. Kata dunia di sini adalah 'kosmos' yang identik dengan dunia yang jahat".
Gara-gara gw memakai kata 'kosmos' membandingkannya dengan 'ge' secara luas tempat, gw pernah direject paling ga oleh 2 penterjemah alkitab... haha. Tapi itupun mereka tidak menolak secara total, karena biasanya kata 'kosmos' digunakan untuk menyatakan hal yang jahat, bukan dinyatakan secara luasnya tempat. Tapi menurut gw, pengetahuan itu berlapis dan terus berkembang, so... gw rasa gw bs bertanggung jawab atas pendapat gw itu.

Okey, mari kita melanjutkan cerita memfasilitasi group Roma di kelas belajar alkitab. Gw menceritakan latar belakang penciptaan dunia. Ini yang gw ceritakan:

Pertama: Hubungan Tuhan dengan manusia.
Kenapa Yesus turun ke dunia? apakah karena mengasihi dunia? Apakah Yesus mau turun ke dunia untuk menyelamatkan manusia yang berdosa? Emangnya rencana penyelamatan itu adalah plan B-nya Tuhan? Kira-kira... apakah Lucifer tau rencana penciptaan dunia ketika ia masih di sorga? Mereka menjawab "tau". 
Ketika dunia diciptakan, jauh sebelum penciptaan, Allah Tri Tunggal sudah merencanakan penciptaan ini sebelum Ia menjadikan apapun. Yesus adalah Anak Tunggal-Nya yang sangat dikasihi-Nya. Yesus ingin mempunyai banyak saudara. Allah Tri Tunggal pun menciptakan manusia. Ketika rencana itu dibicarakan, Lucifer pun mendengar rencana ini dan ingin menjadi pusat perhatian. Lucifer pun diusir dari sorga karena ia menjadi sombong. Ketika ia diusir dari sorga, maka ia pun mengacau proses penciptaan bumi (Kej 1:1). Sebelum hal itu terjadi pun, Allah Tri Tunggal sudah mengetahui hal ini, dan sudah menyiapkan Yesus sebagai korban tebusan untuk merebut manusia yang mau menginginkan Yesus, yang mau bersatu dengan Yesus. Karena Bapa sudah melihat gelagat Lucifer yang akan memberontak dan sudah menyiapkan apa yang harus dilakukan kalau Lucifer mengacau rencana Tuhan itu. Jadi tujuan utama Allah Tri Tunggal bukan lah untuk menebus manusia dari dosa. Kerena pada mulanya Allah Tri Tunggal merencanakan untuk menciptakan manusia yang amat sangat baik, sempurna adanya. So.. dosa tidak pernah direncanakan sejak awalnya. Tetapi sejak awal sudah direncanakan bagaimana menebus manusia yang jatuh dalam dosa.
Yesus ingin punya banyak saudara. Walaupun kenyataannya manusia itu fragile dan jatuh dalam dosa, Yesus rela untuk mengorbankan segalanya untuk memperoleh kembali manusia, agar Ia dapat berkumpul bersama banyak sodara di sorga. Dan Yesus rela berbagi warisanNya dengan manusia yang mau percaya kepadaNya dan mau bersatu dengan Dia. Dan Ia juga akan menjadi yang sulung diantara banyak saudara.
Dan jika kita adalah anak, maka kita juga adalah ahli waris, maksudnya orang-orang yang berhak menerima janji-janji Allah, yang akan menerimanya bersama-sama dengan Kristus, yaitu jika kita menderita bersama-sama dengan Dia, supaya kita juga dipermuliakan bersama-sama dengan Dia. Roma 8:17 (ITB)
Sebab semua orang yang dipilih-Nya dari semula, mereka juga ditentukan-Nya dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya, supaya Ia, Anak-Nya itu, menjadi yang sulung di antara banyak saudara. Roma 8:29 (ITB)
Surat Yohanes mencatat bahwa Allah itu kasih.So... Ia bukan saja mengasihi tetapi sebagai subjek, Ia adalah Pengasih. Jadi Ia dapat dikatakan Pengasih yang mengasihi. Ia ingin membagikan kasih-Nya kepada siapapun yang menginginkannya.

Mari kita telaah cerita di atas. Kita dapat menemukan bahwa alasan atau tujuan Yesus menyelamatkan manusia bukan hanya karena Dia adalah kasih sehingga Ia ingin membagikan kasih-Nya tetapi Ia didorong oleh tujuan utamanya adalah karena Ia ingin mengumpulkan banyak saudara untuk berkumpul dengan Dia di sorga. Sehingga walaupun manusia itu jatuh dalam dosa, Yesus rela untuk berkorban untuk menyelamatkan manusia itu. Syaratnya hanyalah mau percaya kepada Yesus.

Kedua: Hubungan antara laki-laki dengan perempuan dalam pernikahan
Jika kita mempelajari hubungan laki-laki dan perempuan dalam pernikahan, kitab Efesus menggambarkannya seperti hubungan Kristus dengan jemaat. Ada banyak hal yang dapat dipelajari di sini.Termasuk bagaimana Krisus meminang gereja, mengangkat cawan dengan darah-Nya sendiri (biasanya anggur), memandikan gereja, kemudian menyediakan tempat untuk gereja agar ketika Kristus datang kembali, Ia dapat menjemput sang mempelai wanita, gereja, untuk bersama-sama dengan Dia di sorga.Tetapi fokus yang mau saya angkat di sini adalah "Hubungan antara laki-laki dengan perempuan dalam pernikahan". Walaupun laki-laki itu disebutkan bahwa ia harus seperti Kristus, namun ia bukan Kristus, artinya ia bukan kasih. Laki-laki hanya bisa mencontoh Kristus untuk melakukan kasih, namun laki-laki bukan kasih itu sendiri. 
Jadi kita melihat di sini bahwa kasih adalah tools untuk melakukan tujuan. Kasih bukan tujuannya. Di dalam berumah tangga, tujuan pengantin untuk bersatu bukan untuk mengasihi. Tujuan utama laki-laki dan perempuan dipersatukan dalam rumah tangga adalah sebagai gambaran Kristus dan jemaat, umat Tuhan dapat melihat Kristus di dalam rumah tangga.
Jika tujuan berumah tangga adalah mengasihi atau memperoleh kasih, maka akan sangat mudah rumah tangga itu pecah, bercerai. Mari kita perhatikan alasan orang bercerai, artis ataupun orang biasa, baik di media televisi atau media lainnya, alasannya adalah "sudah tidak cinta ngapain dilanjutkan". Kalau kita dapat menyadari hal ini, kita ini walaupun kita sudah percaya kepada Tuhan Yesus Kristus, namun sekali lagi, kita bukan kasih, kapan saja persediaan kasih kita bisa habis. Kita sangat bergantung kepada sumber kasih, yaitu Tuhan Yesus Kristus sendiri, dan sekarang diwakilkan oleh Roh Kudus di bumi. Ketika kita terpisah dari sumber kasih itu maka persediaan kasih itu akan cenderung menurun dan habis. Apa yang dapat kita sombongkan dari tubuh fana ini. Kenyataannya kita tidak dapat terpisah dari Tuhan Yesus Kristus itu. Penterjemah TSI (Terjemahan Sederhana Indonesia) dangat tepat menggunakan kata "bersatu dengan Kristus", ketika kita percaya kepada Kristus. Tentu saja proses "percaya" itu bersifat keep in goingkeep in believing. Ketika seseorang berhenti percaya maka Efesus 5: 32 mengatakan Roh Kudus akan berduka.
Jadi dari kedua contoh di atas kita dapat melihat bahwa "mengasihi" itu bukan "tujuan". "Mengasihi" itu adalah tools untuk mencapai tujuan. Seringkali kita senang dan bangga ketika kita baru akan menggapai toolsnya. Bahkan belum mencapai tujuan sama sekali. 

*artikel ini masih diuji. Saya merenungkan hal ini ketika membaca kitab Efesus, Yohanes dan Roma. I know who I am, jadi jika Saudara pembaca tidak setuju, saya tidak keberatan, jika Saudara ingin mengembangkannya juga silahkan. I don't mind. Artikel ini juga seharusnya sudah diluncurkan 2 hari lalu, but... saya mengalami sakit kaki yang membuat saya ga bisa jalan, sangat mengganggu, dan tidak boleh minum obat. Saya sangat berusaha untuk bisa duduk untuk menuliskan ini, semoga artikel ini tidak sia-sia ya. hehe.



Senin, 17 Maret 2014

Trip To Jogja

* Tulisan ini hanya berisi cerita hidup gw beberapa hari ini

Akhirnya Alkitab TSI PB lauching juga di Jogja. Kami diundang untuk turut menghadiri acara ini, padahal hanya untuk bicara selama 7 menit saja. Tetapi inti dari kehadiran kami adalah turut mendukung TSI dan turut mensupport Bapak penggagas terciptanya TSI (Terjemahan Sederhana Indonesia). Dalam beberapa bulan ini, kami siaran di 100.6 Heartline FM (semoga kontrak semakin diperpanjang lagi) untuk memperkenalkan terjemahan TSI kepada masyarakat kristen. Kerinduan kami adalah agar orang kristen yang berbahasa Indonesia, yang ga terlalu paham bahasa Inggris, mempunyai terjemahan pembanding untuk memperkaya pengertiannya akan Alkitab. TSI adalah alkitab terjemahan dinamis yang berdasarkan makna. Jika dibandingkan dengan Terjemahan Baru, yaitu Alkitab yang kita pakai biasanya, TSI lebih ke arah terjemahan bebas tetapi tetap mempertahankan makna, sedangkan TB, merupakan terjemahan dinamis juga tetapi lebih ke arah harfiah. So... dengan melihat posisinya dalam aturan penterjemahan, bahasa yang digunakan TSI lebih kekinian daripada TB. Kehadiran TSI tidaklah menggantikan TB. TSI diharapkan lebih mudah dimengerti oleh masyarakat karena bahasanya yang ringan dan mudah dicerna.

Di Jogja kami bertemu dengan teman-teman baru, mereka mendukung TSI juga. Mereka berasal dari PBT (Pioneer Bible Translator) Texas Amerika. Banyak hal unik yang bisa kami pelajari dari mereka. Kami juga dapat bertemu dengan seorang Jim Yost, dan beliau banyak berceria tentang pelayanan beliau.Memang tidak semua prinsip-prinsip yang dipaparkan oleh beliau dapat kami terima, tetapi ada banyak hal-hal menarik yang dapat dipelajari. Salah satu yang saya suka dari perkataan beliau "Jangan ajarkan jemaat tentang kebenaran, tetapi ajarkanlah mereka bagaimana cara mencari kebenaran". Prinsip ini mirip dengan prinsip "menggali harta karun" yang kami siarkan di radio.

Ketika berangkat ke Jogja, kami menggunakan jasa penerbangan yang cukup terkenal.... dengan delay. Saya suka untuk mencari pesawat yang paling pagi dengan alasan tidak mungkin mereka delay. Tetapi hari itu kami mengmbil jadwal yang 7.35, penerbangan kedua. Kami mengalami delay. Lumayan lama dan bosan menunggu sampai jam 10 baru berangkat. Untuk berangkat jam 7.35, kami sudah bangun jam 3 pagi, mandi, persiapan. Berhubung karena tol masih macet jam 5-6 pagi, kami naik taxi yang jam 4.30. Bisa bayangkan dong, tidur malam jam 12, karena masih ada kelas, dan harus bangun jam 3 pagi, lumayan terhuyung-huyung, ehh... sampe di sana didelay 2,5 jam. Sudah didelay, ehh... hanya dikasih kompensasi roti yang sudah keras dan tak termakan. Hati ini lumayan terusik dan kesal, tetapi berusaha untuk cool.

Tetapi ada suara di hati, "pasti ini untuk kebaikan". Ya sudah akhirnya kami memutuskan untuk tidak mengeluh dan menikmati saja apa yang terjadi. kemudian saya mulai mengingat, apa ada berhubungan dengan doa gw ya. Ohya... sebelum berangkat saya berdoa agar Tuhan lindungi selamat sampai tujuan, pesawat ga goyang-goyang, maksudnya ga ada badai, ataupun turbulence. Well... rupany pesawat yang akan kami tumpangi lagi rusak secara teknis, so kami harus menunggu pesawat yang sudah berangkat ke Jogja tadi pagi untuk kembali ke Jakarta. Akibatnya kami dipindahkan ke pesawat yang lebih besar, dan perjalanan menyenangkan. Praise God. Ternyata doa yang sederhana ini didengarkan Tuhan. Namun ketika Tuhan menjawab doa kita, ya kita harus bersabar.

Begitu juga ketika Jogja-Jkt, mungkin karena gw terlalu recok minta doa yang serupa, akibatnya harus delay 1 jam juga, karena alasan cuaca. Hmmm... Tuhan perhatiin kita ya. So sebelum mengeluh coba ingat-ingat akan doa kita ataupun perkataan kita.

Saya teringat waktu gw berdoa pagi seminggu yang lalu...saya berdoa untuk banyak hal, tetapi tiba-tiba terinterupsi ketika mendoakan seseorang. Seseorang ini akan pergi untuk menjemput kekasih hatinya di negeri nan jauh, ga tau dimana. Orang-orang sekelilingnya pasti sangat kehilangan dia, mengingat prestasinya, dan apa yang dia buat sangatlah berarti. Saya juga tidak mengerti kenapa saya bisa mendapatkan hal ini. Sejauh yang saya mengerti, kadang-kadang Tuhan hanya ingin memberitahu saja, tanpa kita harus berbuat apa-apa. Aniway, saya hanyalah manusia yang kurang rohani, mungkin saya bisa salah.

Saya bukan ahlinya untuk "doa", namun sudah selayaknya kita orang-orang yang percaya harus berdoa. Cara kita berkomunikasi dengan Tuhan pastilah tidaksama satu dengan yang lainnya. Tetapi Tuhan dapat mengerti kita sedemikian sehingga kita juga seharusnya dapat memahami bagaimana Tuhan menjawab doa kita. Tapi seringkali kita gagal untuk memahami kehendak Tuhan. Ayo coba lagi, jangan menyerah.

Jika kita perhatikan betul-betul pola-pola doa kita, kita seringkali berdoa hanya untuk melegakan hati kita untuk mengambil keputusan. Jadi doa itu tidak bisa menjadi solusi hidup kita. Kenapa? karena jika kita menganggap doa adalah solusi hidup kita maka kita kebanyakan memaksakan kehendak kita, dan tidak mau untuk dewasa. Padahal kan kita sering mendengungkan untuk mengikuti kehendak Tuhan. Mari kita bangun konsep yang jelas, agar hidup kita ga oleng, ga mudah tertipu.

Saya sering bilang ke teman-teman bahwa "Tuhan ga punya fesbuk". Bukan berarti saya tidak percaya dengan kemahakuasaan Tuhan yang mengerti dan maha hadir. Tetapi mari kita perhatikan Firman Tuhan yang berkata kalau kamu berdoa masuk kamar dan kunci pintu, berbicaralah kepada BapaMu di tempat tersembunyi. Di bagian lain dari alkitab juga menjelaskan bahwa seorang Yahudi yang berdoa keras-keras di pinggir jalan supaya semua orang mendengar doanya dan mengetahui betapa religiusnya dia. Bukankah dengan menuliskan doamu di FB tidak berbeda dengan yang dilakukan oleh orang Yahudi ini? Apakah dengan menuliskan doamu di FB membuat banyak orang diselamatkan? Well... saya tidak mengerti apa yang dilakukan orang kristen zaman ini. Tapi sudahlah mungkin saya tidak mengerti, tapi Tuhan mengerti. haha.

Ngomong-ngomong soal doa, walaupun saya mengatakan bahwa kebanyakan orang berdoa hanya untuk mengesahkan apa yang akan dilakukannya, namun ketika kita berdoa berarti kita datang ke hadirat Tuhan. Coba aja kita bayangkan, jika Tuhan ingin berkomunikasi atau ingin memberikan berkat atau ingin menceritakan rahasia-Nya kepada manusia, siapa yang mau dicari-Nya? apakah manusia yang sering datang ke hadirat-Nya atau Tuhan akan memilih secara random siapa yang akan diberkati-Nya. Pernyataan ini bukan juga berarti "banyak berdoa, banyak berkat".

Saudara.... kita harus mengerti kehendakTuhan. Bukan memaksakan kehendak kita kepada Tuhan. Sulit memang untuk dapat mengerti pribadi yang bukan diri kita. Jika kita ingin menjadi partner Tuhan, seseorang yang bisa dititipin rahasia-Nya, atau diberitahukan hal-hal rohani, paling ga... kita harus dewasa secara rohani. Orang dewasa dapat mengerti pribadi lain yang bukan dirinya sendiri. Jangan tanya Tuhan "kenapa aku ga bisa denger suara Tuhan" jika masih merengek memaksakan kehendak kita ke Tuhan. Dalam hal ini saya juga ga berkata bahwa kita tidak dapat meminta keinginan-keinginan kita, tetapi kita harus mengerti pribadi Tuhan itu sendiri, kemauanNya apa, bagaimana pola Tuhan bekerja.

Saya tidak mengatakan bahwa saya sudah dewasa rohani. Saya tidak banyak mengerti tentang berdoa, tapi saya hanya melakukannya saja. Saya sangat terkesan dengan doa seorang hamba Tuhan yang mendoakan kami "Tuhan mengurapi kalian.... dengan urapan ini kalian akan naik terus dan tidak turun, kalian akan menjadi pemenang". Tidak ingat perkataannya semua, tapi beliau juga mendoakan janin dalam kandungan, dari dalam rahim sudah mengenal Tuhan, bayi ini akan lahir sehat sempurna, pintar. Awesome. Ada bagian doa yang saya tidak pernah pikir sebelumnya.

Well... saya tidak merencanakan untuk nulis tentang doa. Sebenarnya saya hanya mau cerita-cerita saja.

Doa menjadi begitu penting, bukan hanya karena kita menyampaikan daftar keinginan kita tetapi dengan berdoa kita terkoneksi dengan Tuhan. Dengan kita terhubung dengan Tuhan, maka segala yang kita inginkan dan butuhkan tersinkron dengan sendirinya, asalkan daftar keinginan itu tidak bertentangan dengan kehendak Tuhan.


Jumat, 07 Maret 2014

Cerita Kehidupan

*artikel ini hanya berisi cerita kehidupan beberapa hari ini.

Ntah mau mulai dari mana, tetapi cerita kehidupanku dalam minggu-minggu ini terasa sangat seru. Ada yang sangat menggembirakan, ada yang sangat sedih, ada yang perlu iman besar, ada juga nasehat dari teman. Beberapa hari ini kami menjadi sangat dibutuhkan hanya karena "cerita". Walaupun demikian, kami hanya menjalani hidup kami sebagaimana adanya. Menjadi seorang pelayan Kristus yang berusaha lebih baik hari demi hari. Ada yang berterima kasih dengan tulus, ada juga yang yahh... begitulah. Kami hanyalah orang biasa, yang punya rasa, dan juga harus menjaga rasa itu agar tidak menyakitkan orang lain.

Kami mendadak bingung ketika salah seorang komsel menelpon dan memberikan kabar yang tidak baik. Kami berusaha mensupport dia, syukurlah seluruh anggota komsel juga punya hati yang sama untuk teman yang sedang kemalangan ini. Jangankan dia yang sedang dalam masalah yang sebenarnya, kami yang mensupport juga merasakan ketar-ketir. Kami tidak sempat menceritakan kepada banyak orang, hanya urusan dalam negeri saja lah. Tapi Tuhan itu baik, menunjukkan arahan, memberikan kedamaian kepada kami sehingga kami mampu bertindak.Ia memberikan arahan seperti tiang api pada waktu malam dan tiang awan pada waktu siang, sehingga kami bisa bertindak. Kami pun tidak menyadari apa yang kami lakukan itu sebenarnya luar biasa. Kami hanya melakukan support kepada teman, anggota "keluarga kedua" kami. Kami tidak menyadari impact nya akan sangat besar.

Hal lainnya lagi, sudah sebulan ini kami menjalankan kelas study bible, dan kami juga terperangah akan hasil, feedback dari para peserta. Kami merasakan senang, bangga dan sukacita, ketika melihat banyak orang yang mau membaca alkitab mereka lagi. bukan sekadar membaca tetapi study, artinya mereka membacamya berulang kali sampai mereka bisa memahami isinya. Bukankah itu luar biasa? Kalau bukan karena Tuhan, bagaimana itu bisa terjadi?

Kemarin kami mengunjungi seorang teman, which is anggota komsel juga. Dan ia sangat terbuka untuk bercerita banyak hal. Kami hanya menjadi pendengar yang baik dan belajar banyak darinya. Ada perkataan yang sangat mengena sekali, dia bilang "klo kamu pengen mimpimu jadi kenyataan, kamu hanya butuh 3 orang untuk mencapai hal itu". Intinya ia sedang bicara soal networking, environment yang membuat hidup kita move from the level to next level. Ya tentu saja gw langsung memikirkan seseorang yang ingin saya ajak berdiskusi. haha...

Hmm... itu hanya sedikit cerita seru di minggu-minggu ini.


Sabtu, 01 Maret 2014

Apa yang Mau Kita Ajarkan?

I know seharusnya kami ada di gereja tadi. But I'm so sorry klo kami memilih ada di tempat lain. Memang "lebih baik satu hari di pelataran Tuhan dari pada di tempat lain", namun sehubuah "hubungan" juga harus dimaintaince. Selama beberapa minggu ini, dari senin sampe minggu lagi ngurusin urusan gereja terus. Hari ini mau menikmati karya dari sesama manusia, ngurusin urusan duniawi dulu. We're go to watching movie. Setelah sekian lama ga ngebioskop berdua. Biasanya nonton juga sih... either klo ga nonton tv acara musik atau nonton youtube liatin bule kotbah, kali-kali aje gw langsung gape bahasa inggrisnye... hehe.

Terakhir nonton bioskop tuh Desember, nonton The Hobbit2. Itupun barengan temen-temen. Idiihh.. kayak pacaran anak SMA jaman dulu ye... mesti dikawal ma temen-temen... Jangankan liburan ke LN, nonton bioskop aja ga sempet cuy. Ngarep bisa liburan ke LN. Boleh dong.. haha.

Kami nonton "NON STOP". Gw ga jago mereview film, tetapi gw mau ceritain pelajaran berharga apa yang gw dapetin waktu nonton film. Gw sebenernya ga niat untuk belajar apapun waktu mau nonton, tapi atas jasa neuron-neuron yang mau membangun jembatan di pikiran gw, makanya gw berhasil mempelajari sesuatu. Film ini bercerita tentang seorang air marshall (Bill Mark) yang dijebak dalam pembajakan sebuah pesawat. Daripada bertanya-tanya, lihat aja review filmnya klik di sini.

Apa yang gw pelajari di sini? Gini, kami lagi mengharapkan, berdoa dan memohon kepada Tuhan Yesus agar kami dikaruniakan anak dalam keluarga. Setiap kali ada anak-anak di dalam hati seperti ada pertanyaan sanggup ga kami membesarkan anak, gimana cara kami membesarkan anak kelak, gimana cara mendidik anak. Pertanyaan ini sering muncul apalagi ketika melihat anak yang seperti tidak dididik oleh ortunya. Tapi kami juga tidak bisa menghakimi karena belum pernah mendidik anak sendiri. Mendidik anak sendiri sama anak orang pastilah berbeda. Ketika menonton film tersebut, langsung ku berpikir tentang satu hal penting. Seperti hal nya Bill yang dijebak, disalahkan, dijelekkan oleh orang yang dendam, demikian juga siapapun bisa diperlakukan hal yang sama. Bagaimana kita dapat mengatasi hal ini jika terjadi pada diri kita? Bagaimana rasanya jika seseorang yang kita anggap bisa menolong kita justru membuat kita punya lebih banyak masalah. Bagaimana rasanya ketika kita harus tetap menghormati orang yang menjelekkan kita, menjatuhkan harga diri kita, menipu kita. Dapatkah kita menjaga keoriginalan kita sebagai anak kerajaan? Apa yang mau kita ajarkan kepada anak-anak kita, apakah kita melarang mereka bergaul di luar rumah, karena di dunia luar itu jahat?

Dunia kita sekarang sudah corrupt, rusak. Gw juga diingetin sama lirik dari reff lagu "infected" by 12 Stones:
I Feel Weak
I Feel Numb
Had Enough
Of This Poison We've Injected
Living In This World Infected
Out, Let Me Out
Tell Me How
We All Got So Disconnected
Sick Of Living In This World Infected
Bumi kita sudah terinfeksi dengan dosa. Seorang anak yang lahir di dunia ini langsung terinfeksi virus dosa turunan. So.. artinya manusia siapa saja yang hidup di bumi ini sudah terinfeksi dengan dosa. Kita memang tidak bisa menghindari dari tipuan seorang teman, ciuman seorang sahabat, mungkin kita hanya bisa meminimalisir saja. Kita tidak bisa mengurung diri di rumah agar hal-hal tersebut tidak terjadi pada diri kita, namun kita harus tau bagaimana cara meresponi dengan tetap menjaga integritas kita sebagai anak-anak kerajaan Sorga.

Tidakkah kita menyadari semakin hari semakin banyak kata "jangan" di negeri ini? Larangan memang baik buat kita, tetapi jika larangan tersebut justru mematikan fungsi kita, jati diri kita, larangan tersebut tidaklah baik. Gw memperhatikan beberapa tidnakan ortu yang mendidik anak. Misalnya... ada ortu yang senang ketika anaknya bisa menari di bawah hujan, tetapi ada ortu yang melarang anaknya untuk kena hujan sedikit pun. Keduanya baik, keduanya juga membuat anak belajar. tetapi kita harus melihat alasan ortu memberi larangan tersebut. Ada ortu yang ingin anaknya senang, dan dapat belajar resiko. Sepanjang ortu dapat mengontrol resiko tersebut, ortu mengijinkan anak melakukan hal-hal yang terlihat ekstrim sekalipun. Artinya di sinni, ortu tidak lepas tangan. Tetapi ada ortu  yang ga mau repot dengan resiko, seolah melindungi anak tetapi seringkali anak jadi tidak belajar untuk mengendalikan resiko.

Well... sebenarnya gw ga lagi ngomongin tentang parenting tetapi gw mau share tentang how to handle the risk. Kita kan dah tau klo kita tinggal di dunia yang "rusak", so kita harus bersiap tentang resiko apapun yang akan terjadi, misalnya ditipu orang, dijelekkan orang, dihina orang. jika hal-hal itu terjadi kita ga perlu teriak-teriak ke Tuhan dan bertanya "mengapa Tuhan?". Kita memang harus meminimalisasikan kebodohan, tetapi sepintar-pintarnya tupai melompat pasti jatuh juga kan. Dengan kita belajar mengendalikan resiko, kita juga bisa mengajarkan kepada generasi berikutnya bagaimana kita harus bijak hidup di dalam dunia yang jahat ini. Sekalipun orang-orang yang kita hormati justru mereka yang menjatuhkan kita, kita bisa stay cool, be humble dan tetap menjaga integritas sebagai anak-anak Allah. Emas, jatuh di selokan paling bau pun tetap kualitasnya emas.

Itu aja deh.