Hanya pikiran spontan... hanya belajar...

Kamis, 11 Agustus 2011

Tips Membaca Alkitab 2

Beberapa waktu yang lalu Pak Ian pernah share tentang bagaimana cara membaca alkitab, dalam sebuah pertemuan kelompok sel. Beliau berkata bahwa sering kali orang salah dalam cara membaca alkitab sehingga tidak jarang orang yang membaca alkitab merasa tidak megerti bahkan merasa bosan. Kenapa? Beberapa teman menjawab: karena bosan, karena terburu-buru, karena dijadwal, karena malas, karena tidak mendapat apa-apa, dll. Jawaban-jawaban itu seperti suatu daftar 'dosa' yang baru saja diakui oleh beberapa orang yang mengatakan bahwa mereka tidak membaca alkitab mereka.

Ada juga yang berbangga bahwa mereka membaca alkitab melalui renungan harian, benarkah itu membaca alkitab? (Uppss.... walaupun saya penulis RH, saya tidak menganjurkan hanya membaca RH saja. Saya sering mencantumkan bahan bacaan alkitab). Membaca alkitab adalah membaca dari alkitab (baik elektronik ataupun buku alkitab), membaca sampai menemukan maknanya. Bacalah dengan logikamu, akalmu, dan ingatlah! Bacalah jangan hanya setengah-setengah, baca sampai mendapatkan maknanya!


Penulis mendapatkan suatu 'ketakutan' di kalangan orang kristen terhadap pernyataan "jangan bersandar pada pengertianmu sendiri!". Ijinkan penulis menjelaskan kesalahpahaman ini. Menurut penulis, tentu saja orang kristen telah salah kaprah dalam memahami pernyataan ini (bercetak miring dan bergaris bawah). Alkitab haruslah dibaca dengan akal budi kita, dipahami seperti tujuan membaca buku lainnya, yaitu supaya mendapatkan pemahaman dari buku tersebut atau mengerti apa yang dimaksud penulis alkitab itu. Setelah alur ceritanya dipahami, barulah si pembaca alkitab mulai mengeluarkan pertanyaan-pertanyaan dari yang dibacanya itu. Misalnya: "apa maksudnya ayat ini ditulis?". Nah... pertanyaan-pertanyaan ini janganlah langsung dijawab dengan asumsi pribadi sendiri. Inilah maksudnya "tidak bersandar pada pengertian sendiri".

Pada umumnya orang akan berhenti membaca alkitab ketika ia menemukan bagian yang tidak dimengertinya. Jika hanya membaca sekali saja akan sulit memang untuk mengerti alkitab. Orang berpikir bahwa jika ia tidak segera mengerti berarti Tuhan tidak berbicara apa-apa pada hari itu kepadanya. Atau mereka berpikir bahwa apa yang tertulis (dalam bahasa masing2) itu sudah cukup mewakili suara Tuhan untuknya pada hari itu. Jika demikian, bagaimana mungkinkah kita akan merenungkan ayat-ayat alkitab yang itu-itu aja siang dan malam? Apakah cocok dalih bahwa kita belum lulus sehingga harus belajar yang itu-itu saja? Atau karena kemalasan kita untuk menggali alkitab lebih banyak lagi. Tidakkah kita ingat bahwa "kasih setia Tuhan selalu baru tiap pagi", yang paling tidak artinya bahwa Tuhan tidak akan kasih kita yang itu-itu aja. (God always ready to give us some new things every morning, somehow we're not ready to receive them).

Bayangkan jika kita mau saja untuk menggali alkitab dengan dimulai dengan membacanya berulangkali. Jika Firman Tuhan yang diperoleh selalu pengilhaman yang baru, maka paling tidak ada selama setahun kita mendapat pengertian ayat yang baru sebanyak :
365 x 2 ayat (siang dan malam) = 730 ayat
atau minimal 365 ayat dalam setahun
Jumlah ayat alkitab dikutib dari http://id.wikipedia.org/wiki/Alkitab adalah 31.102 ayat. jadi paling tidak dapat  memberikan pengertian sebanyak 31.102 / 365 = 85 tahun.Seharusnya selama 85 tahun tidak ada perulangan, karena mendapat pengertian dari 31.102 ayat yang berbeda. Belum lagi jika ditinjau dari segi banyaknya kata, yang mewakili pengertiannya yang berbeda pula. Misalnya dalam PL (bahasa Ibrani) ada 496.485 kata , dalam PB (bahasa Yunani) ada 161.772 kata. Jika kita membuka kamus study kata maka kita akan memperoleh sekian banyak pengertian. Belum lagi, seorang ahli berkata, "satu ayat alkitab paling tidak dapat diperoleh minimal 50 pengertian". Woww... artinya jika kita bertekun untuk membaca alkitab berulang kali maka kita akan memperoleh pengertian-pengertian yang baru yang tak habis-habisnya. (Ya.. Firman Tuhan yang adalah Allah sendiri merupakan sumber hikmat - 1Kor 1:30). Itu baru dengan pengertian 'kamus' atau pengertian logika kita, pengertian-pengertian yang diberikan kepada hamba-hamba Tuhan sebelum kita - dan sudah dituliskan dalam kamus. Belum lagi jika diterangi oleh Roh Kudus, pesan yang baru. (Roh Kudus adalah penulis alkitab yang sesungguhnya, jadi Roh Kudus lah yang mempunyai pengertian-pengertian itu). Sayangnya.... hanya untuk tahap membacanya saja, banyak yang sudah putus asa dan berhenti tanpa memperoleh pegertian.

Seorang guru teologia pernah berkata "saya tidak akan mengkotbahkan bagian itu, jika saya belum membaca keseluruhan kitab-nya sebanyak 50 kali". Ada juga yang pernah berkata "saya harus membaca perikop itu minimal 20 kali". Artinya, pembaca alkitab haruslah membaca sampai benar-benar dapat menyelami ayat demi ayat dalam perikop itu sambil meminta ilhaman Roh Kudus yang memberikan "garis besar" bagian yang harus dibahas secara spesifik.

Ada beberapa pendekatan yang dilakukan orang ketika membaca alkitab (dikutip dari tulisan Dane Ortlund):

  1. Pendekatan Penambang Emas
    • membaca alkitab dengan membuat alkitab sebagai tambang, gua yang luas, gelap, kadang-kadang tersandung oleh bongkahan-bongkahan inspirasi.
      • hasilnya: pembacaan alkitab yang membingungkan
  2. Pendekatan Pahlawan
    • membaca alkitab dengan menjadikan alkitab sebagai ruang moral ketenaran yang memberi kita panutan untuk dicontoh, seperti meniru suatu raksasa rohani yang heroik.
      • hasilnya: pembacaan alkitab yang putus asa
  3. Pendekatan Aturan
    • membaca alkitab karena ingin mencari perintah untuk ditaati, dengan memperkuat rasa superioritas pribadi secara halus.
      • hasilnya: membaca alkitab dengan pharisaical (berlebihan atau saleh yang munafik)
  4. Pendekatan Artefak
    • membaca alkitab sebagai dokumen kuno tentang peristiwa-peristiwa di Timur Tengah yang tidak relevan dengan kehidupan hari ini.
      • hasilnya: pembacaan yang membosankan 
  5. Pendekatan Buku Penuntun
    • membaca alkitab sebagai sebuah jalan yang dapat memberitahukan pembacanya dimana ia harus bekerja, siapa yang harus dinikahi, shampo apa yang harus digunakan.
      • hasilnya: pembacaan yang cemas
  6. Pendekatan Doktrin
    • membaca alkitab sebagai repositori teologis untuk menjarah amunisi untuk debat teologis berikutnya di starbuck ;p
      • hasilnya: pembacaan yang dingin
"Jangan mengubah alkitab ke dalam bentuk yang tidak seharusnya". Ada beberapa kebenaran dalam masing-masing pendekatan di atas. Tetapi masing-masing pendekatan itu telah membuat alkitab menuju tujuan yang telah melenceng atau tidak seharusnya. Pendekatan yang alkitabiah yang seharusnya adalah "Kristus adalah "ya" bagi semua janji Allah" (2Kor 1:20). Hasilnya: pembacaan yang tertransformasi.

Ada beberapa tips dalam membaca alkitab:
  1. Usahakan membaca satu kitab sekaligus, supaya tidak bingung. Pemberian pasal, judul pada alkitab kita justru membuat kita hanya membaca 'sepenggalan' atau tidak membaca keseluruhan, sehingga kita tidak mengerti dan mendapat perngertian yang parsial saja. Robert Estienne, dikeal sebagai Robert Stephanus, orang Prancis yang melakukan penomoran alkitab, tahun 1551, sambil menunggang kuda  dalam perjalan Paris-Jenewa. Penomoran alkitab ini justru membuat kita sekarang bingung, karena sering kali awal pasal dimulai dengan kata sambung. Artinya lebih baik kita membaca satu kitab sekaligus, atau setidaknya satu perikop (bukan berdasarkan judul yang telah diberikan LAI) yang membuat kita memahami jalan ceritanya.
  2. Carilah tempat yang 'strategis' dan sediakan waktu, supaya tidak terburu-buru. 
  3. Baca berulang-ulang. 
  4. Jika sudah membaca satu perikop, perhatikan detail (yang RK berikan dalam hati).
  5. Jangan terlalu cepat menafsirkan menurut pengertian sendiri. Belajarlah juga dari para komentator, dan arti kamus. Jangan lupa minta RK untuk memberi pengertian yang baru.
  6. Lakukanlah Firman Tuhan yang telah dipelajari.
  7. Bagikan kepada orang lain juga.
Selamat mencoba! :)





Tidak ada komentar:

Poskan Komentar