Hanya pikiran spontan... hanya belajar...

Selasa, 31 Juli 2012

Beralih Fokus

Maka wanita itu meninggalkan tempayannya di situ lalu lari ke kota dan berkata kepada orang-orang di sana,   "Mari lihat orang yang memberitahukan kepada saya segala sesuatu yang pernah saya lakukan. Mungkinkah Ia itu Raja Penyelamat?"  Maka orang-orang itu pun meninggalkan kota lalu pergi kepada Yesus. 
Yoh 4:28-30

Perempuan ini datang ke tempat itu untuk mengambil air. Kemungkinan ia datang dari tempat yang jauh, mungkin dari kota. Ia ada di situ sekitar jam 12 siang. Jika tempatnya dekat, ia takkan berada di situ jam 12 siang, karena sudah pasti terik matahari membuat orang berpikir lebih baik mengambil air lebih pagi lagi. Tetapi ia di situ sekitar jam 12 siang sedang menimba dan di situ ia bertemu dengan Yesus. 

Perempuan ini bukanlah perempuan baik pada umumnya, karena Yesus membuka rahasianya akan 5 suami yang sebenarnya bukan suaminya. Walaupun demikian ia tau akan hal-hal yang agamawi, ia tau tentang nabi yang akan datang. Mungkin ia tadinya adalah seorang yang setia beribadah menurut agamanya dan terpaksa terseret masalah asusila karena desakan ekonomi. 

Ia datang ke sumur itu untuk memenuhi kebutuhan jasmaninya. Dan ia bertemu Yesus. Suatu peristiwa yang ia tidak bayangkan, bahkan peristiwa yang biasa dihindari oleh orang Samaria pada umumnya. Orang Samaria tidak bergaul dengan orang Yahudi. Mungkin perempuan ini dalam suatu keputus asaan yangdalam sehingga ia pun sudah tidak perduli lagi apa akibat dari tindakannya berbincang dengan orang Yahudi. Tetapi peristiwa ini sungguh mengubahkannya.

Fokus awalnya ia datang ke sumur itu adalah hanya untuk mengambil air untuk kebutuhan jasmaninya. Ketika ia menjadi percaya akan perkataan Yesus, fokusnya berubah. Ia seakan tidak perduli dengan hal jasmaninya lagi. Bahkan tentang rahasia yang dijaga baik-baik selama ini pun, ia tidak segan untuk menceritakannya kepada Yesus. Ia membuka dirinya, dan bersedia menerima kebenaran dari Yesus. Titik baliknya adalah ketika ia tersadar bahwa Yesus adalah nabi yang sesungguhnya dinantikan oleh kaumnya. Seorang nabi yang dapat memberitahukan apa yang tersembunyi. Ya.. itulah tugas seorang nabi. 

Yesus adalah lebih dari sekadar nabi yang dinantikan oleh orang Samaria. Ia adalah Mesias yang dinantikan oleh orang Yahudi. Dengan pengertian awal si perempuan Samaria ini, mengubahkan hidupnya. Pengertian awal yang sebenarnya bukanlah pengertian yang sebenarnya. Tetapi pengertian itu semakin bertumbuh dan bertambah ketika ia memperkatakannya kepada orang lain. 

Hal yang menarik di sini adalah ketika ia tersadar dan dalam pikirannya membentuk pengertian bahwa "ini adalah nabi yang dicari", ia mengubah fokusnya. Ketika ia menjadi percaya kepada Yesus, ia mengubah fokusnya. Fokusnya bukan lagi untuk mengambil air. Bahkan ia meninggalkan tempayannya. Tempayan adalah alat untuk mengambil air. Ia mendapatkan air hidup yang sebenarnya. Buru-buru ia lari ke kota dan menceritakan kepada kaumnya "Mungkinkah Ia itu Raja Penyelamat?". Pengertiannya bertumbuh, sekarang ia mengenal Yesus sebagai Raja Penyelamat. 

Kadang kita menilai diri kita terlalu rendah, "ahh.... siapa aku, aku bukan siapa-siapa.... apa yang aku lakukan terlalu kecil... aku ga bisa seperti mereka... mereka hebat...". Perempuan ini juga mungkin dalam keputusasaan menilai diri terlalu kecil dan apa yang di tangannya? hanya timba dan tempayan. Bahkan ia meninggalkan tempayannya ketika ia bertemu Yesus. Fokusnya berubah. Ia tidak terfokus akan hal jasmaniah. Percayakah kita ketika kita bertemu dengan Sumber Air Hidup itu hidup kita berubah? Perubahan itu dimulai dari pikiran, kemudian hati dan tindakan. Bisa saja si perempuan itu kembali lagi dan mengambil timbanya, tetapi fokusnya bukan hanya untuk hidup jasmaninya. Fokusnya sudah beralih kepada urusan Raja Penyelamat. 

Dari cerita ini kita dapat menggali banyak hal. Bukan hanya dari sisi si perempuan. Mari kita lihat dari sisi Yesus. Apakah di sana ada saat itu ada malaikat bernyanyi, atau dikatakan Roh Kudus turun? Di sana ada Yesus, Sang Yang Diurapi. Ia sedang kelelahan, mereka beristirahat di Shikar dari perjalanan mereka dari Yudea (Yerusalem) menuju Galilea. (Jarak garis lurus dari Yudea ke Shikar kurang lebih 60 km, berarti belum termasuk apa tanah yang mereka injak rata atau berbukit, mungkin berlembah). Murid-murid-Nya mencari makanan. Yesus mengajaknya berbincang. Hanya itu. Sang Yang Diurapi mengajak perempuan ini berbicara. Perkataan yang diurapi itu menghasilkan pertobatan. Bukankah setiap hamba Tuhan yang melayani telah diurapi? Perkataan hamba Tuhan juga diurapi.  

Kadang kita terlalu naif, meminta tanda, kita minta malaikat turun untuk mengatakan sendiri tentang kabar baik, dan berdoa "apakah orang ini adalah orang yang tepat untuk diceritakan tentang kabar baik?". Hal yang perlu kita lakukan adalah memperkatakan hal-hak yang baik. Dari mulut yang diurapi seharusnya menghasilkan perkataan yang diurapi juga. Tentu saja kita meminta Roh Kudus untuk membantu kita mengatakan hal-hal yang sulit untuk dikatakan.  

Perkataan yang diurapi akan mengubahkan dunia kita, dunia orang lain. Hati-hati menggunakan perkataan kita. 



Tidak ada komentar:

Posting Komentar