Hanya pikiran spontan... hanya belajar...

Rabu, 20 April 2011

Mengucap Syukur

Hampir setiap hari kita mendengar perkataan ini. Sungguh baik mengucap syukur kepada Tuhan. 1Tes 5:18 berkata "mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu".

Hampir setiap hari saya dikirimi kata-kata ajakan untuk mengucap syukur. That's good. Dari guratan tulisan mereka terlihat betapa Tuhan sedang memberkatimereka dengan sangat luar biasa. Ada beberapa yang sedang memberi semangat kepada diri mereka sendiri untuk tetep bersyukur dalam kesesakan mereka. Kemelut dalam pekerjaan, konflik dengan orang lain. Tetapi ada satu hal yang saya tidak bisa setuju dengan mereka, yaitu alasan   atau motivasi yang membuat bersyukur.


Begitu mudahnya kita dapat berkata "Tuhan baik", ketika kita sedang mendapat berkat, ketika keluarga kita sedang dalam keadaan baik-baik saja. Dan yang lebih parah lagi (menurut saya), ketika saya dapat mengucap syukur ketika saya melihat keadaan saya lebih baik dari orang lain. Bukankah saya sedang menari-nari di atas penderitaan orang lain. "Tuhan, aku mengucap syukur karena posisiku dalam pekerjaan ini. Banyak orang lain tidak dapat menjadi sepertiku. Banyak pecundang hanya berharap tanpa mengerjakan apapun. Aku tak seperti mereka Tuhan".  Bukankah doa ini sama seperti doanya orang Farisi dalam Luk 18:11, "Orang Farisi itu berdiri dan berdoa dalam hatinya begini: Ya Allah, aku mengucap syukur kepada-Mu, karena aku tidak sama seperti semua orang lain, bukan perampok, bukan orang lalim, bukan pezinah dan bukan juga seperti pemungut cukai ini; ". Berarti fokus mengucap syukur di sini adalah diri sendiri. Mengucap syukur model begini, mempromosikan diri sendiri.
                    
Sebelum berkomentar lebih jauh, ada baiknya kita memperhatikan bagaimana cara Tuhan Yesus dalam mengucap syukur. Ada 60 ayat yang mengandung kata "syukur" dalam terjemahan ITB. Ada 39 ayat dalam PB yang mengandung kata "mengucap syukur". Dalam Kitab Injil, terjemahan ITB, ada 11 ayat yang mengandung kata "mengucap syukur". Ada 8 ayat dalam kitab Injil yang mengandung pengucapsyukuran Tuhan Yesus.

Salah satu analisa singkatnya adalah bahwa Yesus mengucap syukur dengan menengadah ke atas, kepada Bapa. Yesus yang tadinya tinggal di sorga dan bersekutu dengan Bapa-Nya dalam kekekalan, tetapi ketika Dia harus tingal di bumi, Ia memakai tubuh manusia. Artinya Yesus mengalami apa yang kita alami juga. Yesus merasakan apa yang kita rasakan juga. Dalam tubuh manusia itu, Dia mengajar bagaimana caranya mengucap syukur, yaitu dengan melihat atau memandang kepada Bapa. Bukan karena berkat atau produk apapun yang telah diperoleh, tetapi fokusnya adalah Allah Bapa.

Jika kita percaya bahwa "berkat adalah pemberian Allah, hasil usaha tidak akan menambahinya", maka fokusnya seharusnya Allah. Bukan kuantiti berapa banyaknya berkat yang dapat kita pegang sekarang. Jika saya terjemahkan ke dalam bahasa saya sendiri, "berkat adalah pemberian Allah, bekerja adalah bentuk tanggung jawab terhadap apa yang harus kita kelola di bumi". Bukan karena kita bekerja makanya kita memperoleh posisi, jabatan, kekayaan yang ada pada kita sekarang. Jika kita dapat sadar bahwa berkat itu hanya karena pemberian Tuhan, maka berkat itu hanyalah untuk kita kelola. Kepemilikan masih kepemilikan Tuhan. Jadi apakah bedanya kita yang bekerja di kantor dan menghasilkan uang lebih banyak dibandingkan dengan ibu janda yang berjualan dipasar? Dapatkah diri kita sebagai pembanding berkat Tuhan itu? Tidakkah kita sadar bahwa pekerjaan itu hanya sebagai sarana? Dapatkah kita masih mengucap syukur jika Tuhan mengijinkan desakan iblis untuk menukarkan tempat kita dengan orang yang kita anggap lebih rendah itu?

Dunia mengajarkan hal yang berbeda dalam mengucap syukur. Dunia ini berusaha menjiplak namun arahnya selalu berbeda. Arah mengucap syukur ala dunia adalah kepada diri sendiri atau kepada manusia. Pantas saja banyak yang salah kaprah. Bahkan yang mengaku anak terang pun, melakukannya. (Oleh sebab itu penting bagi kita untuk mengenal Tuhan, walau sedikit demi sedikit, tetapi konstan setiap hari). Orang-orang mengatakan bahwa "doa itu tidak perlu mengucap syukur, karena seperti menipu diri sendiri, padahal belum mendapatkan apapun". Tentu saja pendapat ini dapat dibenarkan kalau menganut paham bahwa "mengucap syukur itu dengan melihat ke bawah, bukan melihat ke atas, kepada Tuhan".

Lantas, apakah bahasan saya telah bertentangan dengan 1Tes 5:18 berkata "mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu". Hal yang penting bagi kita adalah jangan sampai salah dalam "pendefenisian kata mengucap syukur", karena kesalahan itu akan mempengaruhi prinsip hidup kita. Dengan kata lain, apa arti mengucap syukur bagi kita pribadi. Dari situlah kita berangkat untuk tindakan ucapan syukur kita.

"Dunia mengajar kita mengucap syukur dengan melihat ke bawah. Berbeda dengan ajaran Kristus, mengucap syukur itu menengadah ke atas."

bersambung....

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar