Sabtu, 18 Januari 2014
Generasi Baru
Mengisi malam minggu dengan mengetik sebuah artikel. Sebenarnya badan ini lelah, ngantuk, kepala pusing tapi rasanya kekuatan masih ada, mau dikemanakan adrenalin yg berlebih ini klo ga mengerjakan sesuatu yang disukai.
Hari ini sangat luar biasa. Rasanya puas bisa berbagi dengan anak-anak sekolah. Bangun kepagian, membangunkan alrm yang jam 4an itu. Kemudian cerita ini dimulai....
Kami memberikan training leadership di satu sekolah internasional, dan saya nyempil menggantikan beberapa teman yang ga bisa keluar rumah karena kebanjiran. Pengalaman yg luar biasa. Memang bagi sebagian orang bukan sesuatu yang luar biasa banget tetapi bagiku pengalaman ini luar biasa. Dengan latar belakangku yang pelit bicara di depan public, hari ini jadi pribadi yang berbeda dari biasanya.
Saya kebagian di "Post Pancasila". Bukan post yang membuat "wow", saat mendengarnya. Tugas anak-anak hanya menyusun kata-kata yang dipotong2 menjadi susunan butir-butir pancasila. Hmm... ga nyangka klo mereka bias menyelesaikannya hanya dalam waktu 2-3 menit saja. Kemudian kami berdiskusi tentang Pancasila. Jawaban dari anak-anak SMU yang ga pernah disangka-sangka. Sebelumnya kami mendengar bahwa biasanya anak-anak internasional mempunyai semangat nasionalisme yang payah banget. Tetapi di sini kami dapat menyaksikan mereka punya semangat nasionalisme yang lumayan okey. Dari mulut anak-anak muda ini (*perasaan dah tua), saya bias mendengar opini mereka tentang negeri ini. Karena waktu masih tersisa banyak, sementara permainan sebenarnya sudah berakhir, maka saya pun berimprovisasi dengan memberikan pertanyaan-pertanyaan provokasi kepada mereka. Tujuan saya hanya mengajak mereka berpikir. Misalnya "apa yang ingin kamu sampaikan kepada Pak Jokowi klo kamu bertemu dengan beliau?". Jawaban-jawaban simple yang mereka lontarkan "Pak terima kasih", atau ada juga yang bilang "Pak tolong dong kemacetannya dikurangi". Kemudian saya tanya lagi "kamu punya ide apa untuk mengurangi kemacetan?". Ada jawaban yang sangat bagus "pengguna mobil dikurangi, harga mobil dimahalin, trus pada naik bus aja". Trus saya tanya kepada seluruh peserta yang ada di dalam grup (1 grup 10 orang), "emangnya kamu mau pergi ke sekolah naik bus?". Haha... 80% menjawab "mau". Wow.... luar biasa kan.
Masih banyak lagi pertanyaan-pertanyaan yang provokatif untuk mengajak mereka berpikir, tentang banjir, korupsi, dunia, dll. Dari jawaban mereka membuat saya belajar dan berefleksi diri. Anak muda butuh teman untuk berpikir. Mereka sangat suka untuk diajak berpikir oleh orang dewasa. Mereka hanya butuh dianggap dewasa, mereka ingin didengerin aja.
Kamis lalu, ketika komsel, ada pertanyaan yang bagus dari seorang teman "siapa sih next generation itu?". Sebelum pertanyaan itu dilontarkan, kami sudah berdiskusi tentang apa yang kita lakukan sehari-hari yang berdampak bagi the next generation. Menurut saya next generation adalah generasi yang akan menggantikan posisi kita nantinya. Well mungkin saudara ga setuju dengan saya, it's ok.
Tiga hari lalu saya merayakan 11 tahun datangnya saya ke kota ini (haha.. ga penting ya). Pesen gembala saya sebelum pergi "tetap ke gereja ya". Tetapi sebelumnya beliau bilang, klo mau pergi harus siapin dulu orang pengganti kamu sebelum kamu pergi. Artinya saya harus nyiapin pengganti saya sebelum pergi. Well... saya termasuk orang yg ga berhasil mempersiapkan secara langsung pengganti saya. Paling ga saya berhasil mempromosikan beberapa orang untuk "naik" supaya mereka bisa lebih gila lagi dalam berprestasi. Intinya saya berhasil mempromosikan mereka (di kota asal saya) agar saya juga bisa mengejar mimpi saya. So... paling ga di kota asal saya, saya telah melihat my next generation (in music, banner dance, dll), bahkan mereka bisa lebih baik dari saya, membuat saya bahagia. apakah dengan demikian saya mendapat penghargaan, I don't care.
Mari kita melihat dunia, sekeliling, semua sedang sibuk mempersiapkan generasi baru, tunas muda. Lihat saja di tv. Mari kita membantu generasi di atas kita agar hikmat mereka bisa tersalur (dan tetap hidup) di generasi berikutnya. Jangan pernah takut kehilagan ide, jangan pernah takut kehilangan power. Justru ketika kita merasa kehilangan power, segera... sesegera mungkin membangun generasi yang melanjutkan power itu. Dengan membangun generasi baru, mereka akan menghormati kita, sehingga power itu tetap ada. Hal yang saya titipkan kepada teman-teman anak-anak SMU, saya katakan "kita orang muda harus mengembangkan kreatifitas kita". Karena saya selalu belajar kreatifitas dari orang muda, dan belajar hikmat dari orang tua. Saya sering mengamati bagaimana kreatifnya anak2 belasantahun ini. Makanya saya sangat bersemangat ketika diajak untuk memfasilitasi anak SMU.
Saya adalah produk "generasi baru" dari generasi sebelum saya. Saya sangat berterima kasih kepada mereka yang ga menolak saya ketika saya datang ke beliau-beliau dan saya katakan saya mau belajar. Sampe sekarang pun ada generasi sebelum saya yang mau ditanya, mau mementori, dengan senang hati berbagi ilmu. Kamsia bapa-bapa katua. hehe.
Ok deh... saya hanya ingin bilang please... kiranya kita tidak menolak the next generation yang sksd (sok kenal sok dekat), yg ingin belajar dari kita. Kita harus mengingat tujuan besarnya... God's purpose. Semoga saya berkenan mengajak saudara-saudari untuk mempersiapkan generasi berikutnya... hanya dengan sekadar mendengar, berbagi, menyemangati, bercerita "uhuukk..uhukk... opa dulu.. berjuang.... tapi Tuhan tolong... uhukk..uhuukk". Hehe.
Kamis, 09 Januari 2014
"ONE" Efesus 2
Hari itu kami siaran tentang Efesus 4. Dan saya tutup dengan ayat favorit saya dalam versi TSI, Ef 4:16 "Dialah yang mengatur supaya semua anggota disusun dan disatukan dengan sempurna, supaya kita seperti tubuh yang bisa bergerak dan bertumbuh karena ada sendi-sendi dan anggota-anggota tubuh yang lain. Ketika tiap-tiap anggota berfungsi dengan teratur, kita seperti tubuh yang sehat, karena saling menguatkan dan saling mengasihi".
Sayang sekali belum menjelaskan secara jelas, siaran sudah berakhir...
Efesus 4 adalah bagian dari pengaplikasian dari doktrin. Ef 1-3 adalah doktrin/ dasar, sementara Ef 4-6 adalah bagian dari pengaplikasian. Pada bagian Ef 2, dalam dua sesi kami membahas tentang kesatuan. Ada hal yang sangat mengantol di pikiran saya, dan membuat saya berpikir bahwa kesatuan itu tidak mudah. Kita berpikir kesatuan adalah ngumpun-ngumpul antar denominasi, atau paling ga satu youth dalam satu gereja bisa ngumpul bareng, ntah nonton bola bareng, ntah buat acara KKR, atau doa bareng. Saya agaknya kurang setuju dengan defenisi seperti itu. Sudah sejak lama. Namun karena sulit untuk menjelaskan alasannya, saya tidak bisa menerompetkan pendapat saya. Setelah baca EFESUS, banyak paradigma saya yang terbuka. Saya menemukan dasar-dasar untuk berpijak, menemukan alasan-alasan yang tepat. Tidak salah para sarjana teologi mengatakan bahwa Efesus adalah queen of epistle. Suratan ini tidak hanya menggambarkan kekinian, tetapi juga membeberkan tujuan penciptaan dunia, sehingga kita tidak mengatakan bahwa "Yesus lahir untuk mati bagi kita". Jika Anda setuju bahwa "Yesus lahir untuk mati bagi kita", itulah yang membuat Anda hidup sembarangan ketika Anda sudah yakin Anda diselamatkan. Sadarkah Anda bahwa orang yang buat rusuh di dunia justru orang Kristen yang mengatakan bahwa mereka anak Raja? Ya benar kita diadopsi menjadi anak Raja, dengan demikian kita seharusnya sadar tanggung jawab sebagai anak raja, bukan justru sebaliknya hidup asal-asalan.
Kesatuan yang dibahas di EFESUS adalah tentang satu tubuh, satu darah, satu bangunan, dan satu pengharapan. Pernahkah kita renungkan bagaimana orang di sebelah Anda menjadi orang yang sedarah, artinya menjadi saudara serumah. Bagaimana dengan rekan bisnis Anda yang menyebalkan itu menjadi teman satu rumah?? Saya sering mendengar seorang yang sangat cantik dipuji-puji orang. Hmm... pujian itu bagus. Saya hanya bergumam dalam hati bukan karna iri lohh "dia cantik kalau ga serumah dengan Anda, kalau dia serumah dengan Anda... silahkan nikmati lah". Kita memnag hanya tau tampilan orang dari luar. Ketika kita dekat dengan mereka kita mulai merasakan sifatnya, karakternya, kemarahannya, kekesalannya. Coba bayangkan bagaimana orang dengan temperamen tinggi dapat serumah, sedarah dengan Anda, mampukah Anda? Bukankah kita diselamatkan bukan karena perbuatan baik, bukan karena kecantikan, kebodohan, kemalasan, ketidaktelitian, dll.
Bagaimana dengan menjadi satu bangunan? Dalam bangunan berarti masing-masing bagian haruslah berfungsi. Bagaimana jika semen kehilangan fungsinya sebagai perekat? Atau bagaimana semen dapat merekatkan tanpa air? Coba perhatikan saudara-saudara kita serumah, apakah mereka semua berfungsi? Mungkin Saudara yang ga berfungsi. Bagaimana jika adik/kakak/abang kita bermalas-malasan di atas sofa sambil nonton tv, sementara Anda berjuang mati-matian membersihkan ruang tamu, dapur, mencuci baju, mencuci mobil, setrika, dll. Kenyataan kecil yang kita hadapi dalam keluarga kita saja rasanya sudah membuat kita mau meledak. Bagaimana kita mampu meresponi keadaan ketika kita harus bekerja keras, sementara teman serumah Anda tidak melakukan apa-apa? Marilah kita sadari diri kita masing-masing agar kita berfungsi sesuai tujuan keluarga kita masing-masing.
Kenyataan yang paling nyata, manusia tidak suka melihat orang yang hanya bisa ngomong, tetapi ingin melihatnya untuk action juga. Ketika kita mendengar kotbah Pak Pendeta bahwa kita semua harus saling mengasihi, kita ingin melihat beliau memberi makan anak yatim atau membantu korban banjir atau paling ga kita melihatnya senyum kepada semua orang setiap saat. Namun, kita harus sadari bahwa ada beberapa orang yang sangat berusaha untuk tersenyum, ketika ia lelah, ia tidak tersenyum lagi.
Bagaimana seharusnya kita bersikap, ketika teman-teman, keluarga atau orang-orang di sekitar kita (ring 1) tidak berfungsi? Mari kita memulai dari diri kita untuk berfungsi untuk mengurangi kekesalan orang-orang dekat kita. Kadang-kadang memang kita harus bersabar terhadap orang dekat kita yang tidak berfungsi semestinya, beri kesempatan kepada mereka, tolong mereka membuat perubahan kecil, hargai perubahan itu. Tidak mudah memang, tetapi kita diselamatkan tidak sampai di situ aja, tetapi kita didesign untuk melakukan perbuatan baik. Look... ketika kita diselamatkan, seketika itu kita menjadi keluarga kerajaan sorga, kita boleh duduk disorga, namun untuk memperoleh warisan kerajaan sorga itu kita harus melakukan perbuatan baik yang telah Allah tetapkan bagi kita. Seorang anak dalam kerajaan mempunyai tanggung jawab menjadi duta bagi kerajaan tersebut. Secara sikap, karakter, performance, semuanya dilihat orang. Mereka tidak mampu melihat hati Saudara yang bersinar, mereka hanya mampu melihat perbuatan Saudara saja. Seseorang bisa keluar masuk hotel, tetapi untuk diwariskan hotel, mereka harus mengerjakan tanggung jawab mereka.
Memang sulit bagi kita untuk mengerti ini, karena zaman sekarang, seorang anak tidak melakukan pekerjaan bapaknya aja bisa mendapat warisan. Saya tidak habis pikir ketika mendengar jawaban seorang anak SMU yang ditanya "mau jadi apa nanti klo sekolah aja malas", dia menjawab "mau nerusin usaha papa". Bahkan apa yang dikerjakan bapaknya aja dia tidak tau. how come? Zaman sekarang itu sepertinya sudah umum jika kekayaan itu hancur ditangan cucu, atau bahkan anak.
Bersatu di sini adalah ketika masing-masing orang dapat berfungsi dengan baik, bukan seragam, tetapi justru dalam perbedaan tugas itu dapat mencapai tujuan. Mari kita membantu orang-orang didekat kita agar mereka mau berfungsi. Dan yang paling penting... mari kita masing-masing berfungsi!
Minggu, 05 Januari 2014
Refleksi diri dan Rencana
Psa 90:12
Selamat Tahun Baru para pembaca yang budiman! Saya senang blog saya masih ada pengunjungnya. Tidak jarang rasanya saya ingin melenyapkan blog ini dan membuat yang baru. Tetapi seperti ada suara dari dalam hati yang berkata "jangan, supaya kamu bisa belajar". I think it's God voice. Karena saya agaknya terobsesi untuk mendengar suara Tuhan, saya akan memulai dengan menghargai suara hati nurani.
Senang sekali rasanya bisa sampai ke tahun 2014. Tahun 2014 adalah tahun yang banyak ditakuti oleh para pelaku bisnis. Bagaimana tidak, wong belum belum juga dolar sudah melambung tinggi. Ga lama lagi juga akan diadakan pemilu. Belum lagi isu "pemotongan" rupiah. Tanda-tanda ini terbaca oleh para pelaku bisnis, sehingga mereka tidak terburu-buru melakukan investasi. Akibatnya harga barang pada naik. Baru saja memasuki tahun baru, ibu-ibu rumah tangga sudah dikagetkan dengan biaya kebutuhan rumah yang meningkat drastis. Seperti keluhan seorang teman yang tinggal di Aceh, gas tabung 12 kg sudah mencapai 150rb rupiah. Di Medan, biasanya harga gas hanya 75rb, sekarang sudah 95rb. Kondisi ini menakutkan. Belum lagi jenis barang yang lainnya.
Kadang saya suka memperhatikan orang-orang. Semakin ia tahu dan dapat membaca keadaan, semakin ia takut. Kalau kita perhatikan, hanya anak-anak dan orang-orang yang ga berpikir yang tidak merasakan ketakutan. Lihat lah anak-anak yang riang menikmati momen natal. Mereka lari ke sana-sini, mereka tertawa gembira, mereka bersukacita menerima kado tahun baru dan kado natal.
Ada kelompok ketiga yang ga merasakan ketakutan. Seharusnya kelompok anak Tuhan, yang mengaku sudah berada dalam Kristus, orang-orang yang bersatu dengan Kristus dapat mengatasi ketakutannya atau kekuatirannya. Bukan berarti kelompok ketiga ini tidak takut. Ketakutan/ kekuatiran kadang merupakan suatu warning untuk antisipasi terjadinya sesutau. Walaupun ketakutan itu seperti orang yang kuatir terhadap akan terjadinya sesuatu, padahal hal itu belum tentu terjadi. Klo dilihat dari gambaran besarnya, ketakutan sebenarnya hanya menghabiskan waktu dan mengikis perasaan saja. Tapi... harus kita akui, kita juga punya ketakutan ataupun kekuatiran. Hanya saja, orang yang bijak menjadikan kekuatiran itu sebagai suatu masa persiapan dan dapat mengatasi/ menguasai kekuatirannya itu, karena tau rasa aman itu ada dimana. Kita dapat berharap kepada Kristus. Dengan bersatu dengan Kristus, kita punya harapan baru.
Tanggal 31 Desember 2013 lalu, saya pulang kampung. Di gereja, di kota saya dibesarkan, mempunyai tradisi untuk keluarga2 datang ke gereja berdoa bersama, setelah itu kami dapat mencabut ayat. Sebelumnya tentu saja, Pak Pendeta berkotbah singkat dulu. Dalam kotbah Pak pendeta di gereja, dibacakan Mazmur 90, dan diberi penekanan pada ayat 12 "Ajarlah kami menghitung hari-hari kami sedemikian, hingga kami beroleh hati yang bijaksana". Seperti kebiasaan orang Berea (Kis 17:11), saya tidak menerima begitu saja, tetapi membaca berulang dan memeriksa beberapa kata Yunani dalam ayat tersebut. Upss.. bukan berarti saya tidak percaya apa kata Pak Pendeta lohh... tapi saya percaya pasti ada hal istimewa lain yang tersirat di dalam ayat ini. Sesuatu yang sangat istimewa. Tentu saja saya menemukannya. Saya menjadikan hal-hal tersebut seperti pesan Tuhan yang khusus buat saya, dan juga untuk saya tuliskan di sini.
Kalau kita memeriksa akar kata dari "menghitung hari-hari", dalam Ibrani-nya digunakan kata manah, yang bukan saja berarti menghitung, menandai momen-momen berharga, tetapi mengatur, mengatakan, mempersiapkan hari-hari. So... di sini bukan saja berarti kita bersyukur akan apa yang telah terjadi tetapi mempersiapkan hal-hal yang akan terjadi. Kita tidak hanya larut dalam apa yang akan terjadi tetapi kita mempersiapkan diri akan apa yang akan terjadi. Pada umumnya manusia tidak tau apa yang akan terjadi, tetapi manusia dapat belajar dari sekitarnya. Sebenarnya kita dapat mempersiapkan diri, ntah kita tau membaca kondisi, ntah kita tidak tau membaca kondisi (tetapi lebih baik jika kita paham membaca situasi dan kondisi).
Mengerti situasi dan kondisi, apalagi mengetahui masa depan tidak lah selalu enak. Itulah sebabnya tidak banyak orang-orang yang mengetahui tentang masa depan. Tuhan tidak memperlihatkan masa yang akan datang, (atau Tuhan memperlihatkannya juga tetapi dalam bentuk yang tersirat) supaya kita tidak menjadi kuatir dan tidak tau apa yang harus dilakukan. Ada orang-orang tertentu yang diberikan gift untuk bisa melihat masa depan, dan mereka juga diberi kekuatan extra supaya mereka bisa bertahan.
Saya dapat membayangkan bagaimana Rasul Yohanes ketika ia mendapatkan penglihatan di Pulau Patmos. Mungkin ia menjadi tidak enak makan, tidak enak tidur. Itulah sebabnya kitab Injil Yohanes dituliskan setelah kitab Wahyu ditulis. Injil Yohanes mempunyai kekhasan sendiri, di situ ada tertulis apa yang tidak ada di ketiga injil sinopsis, seperti "Pernikahan di Kana". Konsep pernikahan Anak Domba di Wahyu diadopsi dan dituliskan dalam bentuk yang lebih ringan agar orang-orang percaya dapat mengerti konsep tentang pernikahan. Selain itu, Yohanes juga menulikskan 3 surat (1Yohanes, 2Yohanes dan 3Yohanes), kita dapat melihat kesamaan kekhasan surat Yohanes dengan Injil Yohanes melalui tema "kasih". Injil Yohanes bukan hanya bertemakan "percaya" tapi juga tentang "kasih". Makanya jika kita membaa terlebih dahulu surat Yohanes kemudian baru Injil Yohanes kita mendapat fokus yang benar dari Yohanes 3:16. Sering kali kita mendengar bahwa orang memfokuskan Yoh 3:16 pada "kasih Allah akan dunia", di sini fokusnya adalah dunia. Padahal klo kita meneruskan pembacaan sampai Yoh 17, Yesus tidak berdoa untuk dunia. Kemudian kita jadi berpikir apakah ini kontradiksi. Tentu saja menjadi kontradiksi jika kita memfokuskan "kasih Allah akan dunia". Pahadal yang sebenarnya Allah memfokuskan kasihnya pada Yesus Kristus, Anak-Nya yang dikasihi-Nya, sehingga Allah Bapa mau mengasihi dunia. Allah mau mengasihi dunia karena Yesus mengasihi dunia. Dunia ini identik dengan dosa, sedangkan Allah tidak dapat bertemu dengan dosa. Nah... oleh karena itu, manusia yang berdosa harus lah bersatu dengan Kristus, jika ia ingin diselamatkan. Kebenaran kita, kelakuan kita, kesabaran kita, kebejatan kita, kelemahlembutan kita tidak akan mampu membawa kita ke sorga, karena kita manusia yang tidak sempurna. Allah mau menyelamatkan dunia, hanya jika "dunia" mau bersatu dengan Kristus, sehingga Allah melihat Kristus yang sempurna dan tidak melihat noda "dunia". (Dunia yang dikutip di sini hanya orang-orang yang mau percaya kepada Kristus).
Mari kita kembali ke kondisi, situasi...
Ternyata... bisa mengetahui ending cerita tidaklah selalu baik. Hal paling penting adalah dengan siapa kita menjalani cerita itu.
Jika pembaca belum juga memahami hal ini, saya akan menceritakan cerita sederhana... Beberapa kali saya mendapatkan pewahyuan tentang hidup orang-orang. Tidak mudah bagi saya untuk menerima hal ini. Menerima kenyataan bahwa saya "akan" kehilangan teman baik, orang-orang yang saya kenal baik, itu tidak mudah. Bahkan saya dapat mengetahuinya jauh sebelum orang yang bersangkutan mengetahuinya. Rasanya ga enak. Pernah saya tidak tidur beberapa hari karena hal ini. Kepada beberapa orang yang pernah saya "lihat" ini saya sampaikan secara terus-terang kondisi hidupnya, kepada yang lain saya hanya doakan saja, atau memberitahukan kepada mentor saya aja, atau kepada orang-orang yang saya hormati. Untuk menyampaikan berita yang kurang bahagia, itu tidak mudah bagi saya. Bahkan saya harus bergumul dan ingin membantah kenyataan. Pada akhirnya apa yang saya "lihat" itu terjadi, membuat saya menjadi lemas dan tidak tau harus berkata apa. Well... tidak terus-terusan saya mendapat penglihatan, hanya ketika gift itu aktif saja saya harus taat. (Dan saya tidak menganggap diri lebih rohani dari orang lain, justru saya sedang mencari orang yang lebih rohani agar saya tidak tersesat... haha).
Okelah... di tahun yang baru ini, marilah kita merefleksikan diri akan apa yang sudah terjadi dan mempersiapkan diri akan apa yang akan terjadi. Terhadap keluhan-keluhan hidup, marilah kita pelajari apa yang membuat kita mengeluh, apa sih yang kurang. Mari kita memperbaiki diri untuk lebih baik lagi.
Beberapa hari ini, secara tidak sengaja saya mendengarkan keluhan-keluhan tentang pelayanan, ada juga keluhan tentang kesehatan, ada keluhan tentang disiplin, dll. Saya tidak dapat memberikan solusi apapun, karena sebenarnya orang yang mengeluh itu pada umumnya dia tau solusinya. Mereka hanya perlu telinga yang mau mendengarkan. Kemudian saya berpikir, orang yang berdoa juga seperti orang yang mengeluh, curhat. Orang yang berdoa sebenarnya mengajukan solusinya kepada Tuhan. Kalau gtu... kenapa berdoa klo dah tau solusinya? Berarti orang yang berdoa hanya memerlukan keamanan untuk bertindak. Ia butuh dukungan dari Tuhan untuk melakukan sesuatu. Berarti juga berdoa itu membuat orang yang berdoa menjadi damai dan tentram. Saya tidak bermaksud menyalahkan orang yang berdoa dengan model yang demikian. Saya hanya mengidentifikasikan. Tuhan juga tidak menyalahkan orang yang berdoa dengan menawarkan solusinya kepada Tuhan. Tetapi doa yang dijawab Tuhan adalah doa yang sesuai dengan kehendak Tuhan. Jadi kita perlu mengetahui kehendak Tuhan agar doa kita dijawab.
Sebelum saya bercerita terlalu jauh, sementara artikel ini berjudul "Refleksi Diri dan Rencana", saya mengajak pembaca untuk mengingat-ingat peristiwa-peristiwa apa yang membuat diri kita menjadi lebih bijaksana. Keluhan-keluhan apa yang membuat kita tampak bodoh? Mari kita belajar dari keberhasilan dan kegagalan kita. Hendaklah kita ga terlalu membanggakan keberhasilan dan menyalahkan diri atas kegagalan tetapi kita bisa bersyukur atas penyertaan Tuhan dalam tahun 2013 ini.
Rabu, 25 Desember 2013
Greatful for This Year
Gw kadang suka iri sama orang yang ga ngaku ga pernah kesal. Agak aneh bagiku, ntah karena ga ngaku atau memang pengendalian dirinya yang kuat. Okey.. mari ambil positifnya, pengendalian diri yang kuat. Sebelum berkomentar lebih banyak, mari kita lihat apa yang Alkitab katakan tentang hal ini. Mari kita lihat bagian dari suratan Paulus yang disebut juga dengan queen of epistle, yaitu Efesus.
1 Kamu dahulu sudah mati karena pelanggaran-pelanggaran dan dosa-dosamu. 2 Kamu hidup di dalamnya, karena kamu mengikuti jalan dunia ini, karena kamu mentaati penguasa kerajaan angkasa, yaitu roh yang sekarang sedang bekerja di antara orang-orang durhaka. 3 Sebenarnya dahulu kami semua juga terhitung di antara mereka, ketika kami hidup di dalam hawa nafsu daging dan menuruti kehendak daging dan pikiran kami yang jahat. Pada dasarnya kami adalah orang-orang yang harus dimurkai, sama seperti mereka yang lain. (Efesus 2:1-3 ITB)Singkatnya ayat ini bicara soal kematian rohani karena mentaati penguasa kerajaan angkasa. Dalam bahasa Inggris disebut prince of the power of the air, which is iblis. Atau disebut juga dengan penguasa udara. Sehingga dapat masuk akal ketika terjemahan The Message mengatakan "kamu memenuhi paru-parumu dengan polusi ketidakpercayaan, dan menghembuskan udara ketidaktaatan". Kalau mau ga terpolusi dari udara yang dikuasai si iblis, ya check out. Dari awal kejatuhan iblis, ia sudah mengacau. Makanya dalam PB kata "dunia" - kosmos (bhs Yunani), selalu melambangkan sesuatu yang jahat.
It wasn’t so long ago that you were mired in that old stagnant life of sin. You let the world, which doesn’t know the first thing about living, tell you how to live. You filled your lungs with polluted unbelief, and then exhaled disobedience. We all did it, all of us doing what we felt like doing, when we felt like doing it, all of us in the same boat. (Eph 2:1-3 The Message).Jika kita perhatikan lebih dalam lagi ada 2 hal yang bertentangan tetapi dalam dunia yang pararel, yaitu mati-hidup. ayat 1 dikatakan "kamu sudah mati...", tetapi ayat 2 disebut "kamu hidup di dalamnya", berarti jika digabungkan menjadi "kamu hidup di dalam kematian karena pelanggaran-pelanggaran dan dosa-dosa". Pelanggaran itu berarti sudah tau salah tapi dilanggar. Dosa itu berarti melenceng dari hukum Allah. So... keadaan seperti ini pastinya sudah menjauh dari Tuhan, atau melenceng tetapi sudah pasti arahnya bukan ke Tuhan.
Kembali kepada "gw iri..". Saya terlihat kurang rohani karena mengakui hal ini. Ya.. saya mengakui hatiku cepat bereaksi terhadap keadaan sekitar, sehingga cepat kesal dan cepat reda pula jika ada penangkalnya. Gw perlu alasan yang jelas untuk meredakan rasa iri ataupun menenangkan sesuatu yang bergejolak di hati. Intinya gw pengen lebih baik lagi. Gw ingin ga cepat kesal, gw ingin terlihat lebih perfect. Ya... dalam hidup ini gw dah banyak melakukan kesalahan ini itu, lupa ini, teledor di sana sini, agak semberono, agak nekad. Gw pernah merenungkan hal ini, duduk diam sendiri, dan menemukan beberapa indikasi mengapa "gw iri', sehingga terlihat tidak rohani. Pertama, gw membandingkan diri dengan orang yang lebih perfect, orang yang lebih haati-hati. Poin pertama adalah "membandingkan diri". Kedua, gw punya alasan untuk melakukan hal pertama, yaitu gw pengen perfect. Walaupun spouse gw blg dia benci hal-hal yang terlalu detail dari diri gw, terlalu ingin sempurna, tapi klo gw lihat diri gw, sebenarnya gw masih banyak kurang ini dan itu. Misalnya aja dalam menulis sebuah artikel. Ketika gw menulis, rasanya ingin menambahkan poinnya lebih banyak lagi, ingin mendetailkannya lagi, ya... gw memang lakukan itu. Seketika selesai menulis, rasanya perfect. Tapi besok hari ketika bangun pagi, langsung teringat... aduh.. seharusnya ada poin ini... seharusnya bagian itu ditambah itu. Begitu juga setiap habis siaran, rasanya ada aja yang kurang. Ketiga, gw pengen perect, karena gw terinspirasi dengan kotbah "sudah selesai", gw lupa siapa yang mengkotbahkan ini tapi pastinya di gereja tempat gw bergereja sekarang ini. Gw pengen ketika gw mati nanti, gw bener-bener sudah menyelesaikan tugas di bumi ini secara perfect. Alasan keempat adalah setiap anggota tubuh Kristus harusnya berfungsi, yaitu dapat mengerjakan bagiannya dengan tepat, untuk orang lain.Gw sangat suka dengan ayat ini
Dialah yang mengatur supaya semua anggota disusun dan disatukan dengan sempurna, supaya kita seperti tubuh yang bisa bergerak dan bertumbuh karena ada sendi-sendi dan anggota-anggota tubuh yang lain. Ketika tiap-tiap anggota berfungsi dengan teratur, kita seperti tubuh yang sehat, karena saling menguatkan dan saling mengasihi. (Efesus 4:16 TSI - copy from https://www.bible.com/bible/320/eph.4.tsi)Dalam hal "detail", gw belum punya solusi. Menurut gw, itu adalah kekuatan gw, ya... kekuatan gw yang belum berfungsi dengan sempurna. Tetapi kekuatan gw itu agaknya mengganggu orang yang paling dekat dengan gw. So... gw harus mencari suatu cara agar gw tetap bisa mengembangkan kekuatan gw (yang gw pikir masih kurang baik), tanpa mengganggu ketenangan hidup orang yang paling dekat dengan gw.
Well... dengan membaca beberapa paragraf tentang gw yang suka dengan kesempurnaan, sepertinya tidak mudah untuk jadi my spouse ya. Haha... tapi sebenarnya gw blum sesempurna itu. Hanya saja, standar kami berbeda. Perbedaan itu kadang indah, kadang bencana.
Beberapa bulan ini, apalagi mulai september oktober, kami dalam pergumulan yang lumayan berat. Rasanya ingin meledak. Dan akhirnya memang meledak dalam pertengkaran. Tetapi syukur kepada Tuhan, semuanya masih di bawah kontrol Tuhan. Tuhan yang baik itu menyelamatkan hidup pribadi kami masing-masing dan pernikahan kami. Ketika kami bersama-sama belajar Firman Tuhan, kami berkomitmen sendiri-sendiri untuk mengikuti apapun yang Firman Tuhan katakan, akhirnya masing-masing dari kami berubah. Memang berat untuk membuang ego, pride dan standar pribadi sendiri, tapi saya pribadi mengingat tujuan gw hidup, sehingga gw mau berubah.
Ketika gw belajar kitab Efesus, gw sampai kepada satu kata yang mengingatkan prinsip hidup gw, yaitu "telestai" artinya "sudah selesai". Bagi gw, lebih penting tujuan daripada ego, pride, standar hidup. Gw juga mengingat pelajaran tentang tulang itu penting untuk rangka, tetapi tulang yang kuat itu harus dilindungi dengan kulit yang lebih lentur. Artinya kasih itu lebih penting dibandingkan dengan prinsip-prinsip.
Perjalanan hidup kami dimulai dari dua tahun yang lalu. Kami baru menikah 2,5 tahun, tetapi milestone yang paling jelas bagi kami berdua adalah dua tahun lalu. Sepertinya aku masih bisa mengenang kotbah natal dua tahun lalu. Rasanya mak jleb banget. Mulai dari saat itulah gw belajar untuk merendahkan hati. Ga selalu berhasil, tetapi beberapa keberhasilan terjadi secara significant, walaupun belum luar biasa banget. Misalnya... gw paling benci untuk mengakui kesalahan gw. Gw paling benci klo harus share tentang hidup gw, apalagi itu tentang kekurangan. Gw paling benci menerima, karena gw lebih suka memberi. Dari kecil, gw dah dikasih label sinterklas. Dan gw suka dengan label itu, gw ga terluka. Gw terluka saat gw ga bisa memberi, berbagi. Sampai gw menemukan diri gw sombong karena ga mau dibantu. Dan bertekad, what should I do untuk bertobat.
Mungkin ini aneh bagi sebagian orang, tetapi gw berjuang untuk mengalahkan ego gw, pride gw ketika Tuhan mengajarkan tentang menerima. Ada ayat yang mengatakan "lebih baik memberi daripada menerima". Bukan berarti menerima itu buruk, bukan?? Belajar untuk menerima, bukan hanya soal duit, tetapi juga gw juga belajar menerima diri sendiri, dan banyak hal lainnya yang gw ga bisa lukiskan di sini.Upss.. dengan belajar menerima, bukan berarti juga gw mengambil kesempatan dengan menceritakan kesusahan-kesusahan gw. Nggaaa!! Prinsip gw tetap sama "lebih baik memberi daripada menerima".
Gw ga pernah bisa lupa, saat kami kecelakaan... memang duit terbatas. Tiba-tiba seseorang membuka dompet dan memberikan sejumlah uang. Dalam hati memang bergejolak.. ga terima... ga terima.. Tetapi dengan menerima pemberian orang, berarti kita memberi kesempatan berkat Tuhan mengalir ke orang yang memberi itu. Saat menerima uang itu, gw berjanji untuk tidak menggunakan uang tersebut dengan sembarangan.
Tahun ini, Tuhan juga mengajarkan tentang melepaskan hak. Ketika kami harus melepaskan hak atas anak yang masih berusia 7w4d dalam kandungan. Tidak mudah rasanya, tetapi Tuhan juga mengingatkan melalui kotbah bahwa Tuhan tidak punya sesuatupun yang jahat untuk diberikan kepada kita. Dia hanya punya segala sesuatu yang baik.
Tuhan juga mengajarkan kami untuk bersabar, dan stay on the wall. Ga kebetulan juga kami mendengar kotbah itu dari seorang pendeta tamu. Saat kami difitnah, saat ada orang yang manburkan berita jahat tentang kami, tidak mudah untuk stay on the wall. Rasanya hati ini kesal, dan pengen bales, tetapi Roh Kudus selalu mengingatkan untuk tetap menjaga sikap.
Tahun ini pun Roh Kudus masih memberitahukan hal-hal yang tersembunyi bagi kami. Saat kami taat, ketika hal itu terjadi, rasanya sukacita, tetapi saat ga mau denger, ya akibatnya menyesal. Beberapa hari lalu, saat siaran di radio. Gw dah pengen pake kaos aja dan pake celana pendek, karena sepanjang hari sudah pelayanan di gereja dan saya pikir di radio ini tidak ada yang lihat. Tetapi hal sederhana, Roh Kudus ingatkan untuk memakai pakaian yang sopan dan rapi. Saya nurut ajah. Akhirnya ketaatan itu berbuah manis, ternyata pas di studio ada orang-orang yang akan siaran juga yang memakai baju rapi, dengan jas dan dasi. Untungnya mau nurut klo ga kan perkataan kami tidak didengar. haha. Dan saat siaran, ada suatu bagian yang pengen saya sampaikan, rasanya dah nyangkut nih di leher, tetapi tertahan. Sepertinya Roh Kudus membisikkan supaya saya mengendalikan diri, tenang dan mengurungkan niat saya untuk menyampaikan bagian itu. Akibatnya... saat kami selesai siaran, ada orang lain yang siaran, yang bertentangan dengan apa yang ingin saya sampaikan. Saya tidak mengatakan saya benar dan mereka salah, tetapi cara mentafsirkan ayat yang disampaikan beliau sepertinya tidak seharusnya begitu deh. Nah... klo saya mengikuti ego saya, maka saya akan terdengar menyalahkan mereka. Intinya saya tidak menginginkan perpecahan dalam tubuh Kristus. Seberapa benarpun (kita pikir) diri kita, tidak menjadi solusi bagi banyak orang, jika kita memaksakan kehendak kita. Yesus sendiri walaupun Dia adalah kebenaran itu, tetapi Ia tidak memaksakan kebenaran itu. Dia hanya menawarkannya. Perhatikan prinsip tulang dan kulit di atas.
Tahun ini, kami mendapatkan kesempatan untuk melayani di Palu. Rasanya senang sekali bisa melayani orang-orang yang lebih tua. Ya.. memang sudah seharusnya orang muda melayani orang yang lebih tua. Tapi dalam hal ini, kami boleh mengajar orang yang lebih tua, itu suatu previlege. Secara masih di Indo, orang yang belum putih rambutnya ga blh ngajar. haha.
Tahun ini juga gw dapet kesempatan untuk menyampaikan sharing secara oral which is 5 min preaching, dari tulisan gw yang udah ditulis sejak tahun 2008. Haha... ga pernah nyangka. Kirain gw hanya berfungsi seperti dr.Lukas saja. Haha.
Akhir tahun 2013 ini juga, seperti Tuhan bukakan keran-keran berkat. Paling ga 80% dari resolusi yang gw tulis awal tahun sudah tercapai. Termasuk melangsingkan tubuh. Haha. Gw nge-gym, renang dan mengurangi makan sejak bulan Juni awal. Lumayan lah bisa membangun habit baru. Gw juga berhasil membaca Alkitab PB dalam 2 minggu. Walaupun hal itu ga buat gw lebih holy, tetapi membuat gw lebih bertahan untuk membaca dan berpikir.
Tahun depan, gw pengen lebih baik lagi. Kami sangat bersyukur dan berterima kasih pada Tuhan Yesus yang begitu baik bagi kami dan orang-orang sekeliling kami.
Merry Christmas semuanya... God bless you.
Kamis, 28 November 2013
Efesus 2:1-3 Hidup di Bumi
Hal yg paling gampang kita temui di alkitab tentang kata sambung "dan" ini (sebenarnya banyak, tetapi ini adalah salah satunya, yg menurut penulis paling gampang untuk diingat), Kis 1:8 kamu akan menjadi saksi... mulai dari yerusalem "dan" yudea "dan" samaria "dan" sampai ke ujung bumi. Kata sambung "dan" membuat yerusalem, yudea, samaria, ujung bumi, itu sama pentingnya.
Jadi, Ef pasal 2 ini sama pentingnya dengan pasal 1. Pasal 1 ditutup dengan "kuasa", which is kuasa yg dimaksud adalah dunamis. Kuasa tsb adalah kuasa yg dipakai Bapa utk membangkitkan Yesus dari kematian, menaikkan-Nya ke sorga dan juga mendudukkan-Nya di sebelah kanan Bapa di sorga. Kuasa yg sama itu juga yg diberikan kepada kita yg percaya, yaitu yg bersatu dengan Kristus.
Pasal 1 itu merincikan kepemilikan kita di dalam Kristus, pasal 2 menekankan posisi kita di dalam Kristus. Posisi menetukan kepemilikan dan otoritas. Pasal 2 ini juga mempunyai garis besar sbb:
1. Ayat 1-3 adalah keadaan manusia yg jatuh dalam dosa
2. Ayat 4 adalah kondisi pembalik, mengenalkan kekuasaan Ilahi, ada intervensi ilahi. Di sini juga ada kata kunci yg penting, yaitu "but", "tetapi". Kata sambung "tetapi" ini dikenal sebagai pembalik kondisi sebelumnya.
3. Ayat 5-22 adalah kondisi hidup yg baru, yg telah dibalikkan dari kondisi sebelumnya.
Ketika saya melihat 3 poin di atas sebagai garis besar efesus pasal 2, maka pikiran saya langsung teringat kepada suatu peristiwa penting di alkitab, yaitu peristiwa penciptaan. Ketika kita melihat kondisi yang acak-kadut, carut-marut pada ayat 1-3 (), kita akan mengingat Kej 1:2a "bumi belum berbentuk - without form (tohu) dan kosong - void (bohu)". Dan Efesus 2:4 ada kondisi yg membalikkan hal itu, yg pararel dengan Kej 1:2b "Roh Allah melayang-layang di atas permukaan air". Kata "melayang-layang" itu dalam bahasa Ibrani "rachaph" yg berarti "to brood", seperti mengerami, mengendalikan. Jadi di sini Roh Allah mengintervensi kondisi yg sdh carut-marut itu. So.. Kita bisa percaya bahwa Tuhan tetap mengontrol keadaan. Kemudian Ef 2:5-22 pararel dengan Kej 1:3-31 dimana Allah menciptakan isi bumi ini -- karena bumi diciptakan utk ditempati -- di sini Allah membuat ciptaan, dimana Ef 2:5-22 juga kita yg bersatu dengan Kristus telah menjadi ciptaan baru.
Mari kita membahas satu bagian saja... Ef 2:2 jemaat di Efesus (bukan hanya mereka tetapi kita juga) diingatkan bahwa dulu kita mengikuti jalan dunia ini, mentaati penguasa kerajaan angkasa.. Kata "penguasa kerajaan angkasa" berarti juga penguasa udara. Dalam KJV disebut "the prince of the power of the air", atau di NIV "the ruler of the kingdom of the air". Kita tau bahwa yg disebut "penguasa udara" adalah iblis.
Dulu saya agak confused dan protes kenapa di Mat 4:8 disebut bahwa iblis menawarkan Yesus semua kerajaan dunia untuk dituker dengan penyembahan thd dirinya. Dan dalam Mat 28:18 Yesus hanya diberikan kekuasaan dalam skop (secara ukuran) lebih kecil dari dunia yg ditawarkan iblis kepada Yesus. Akhirnya saya bisa mengerti, bahwa ketika bumi ini diciptakan, ada yg mengacau di sana, sehingga menjadi nyata bahwa Lucifer menjadi penguasa udara. Memang di Yeh 28 dan Yes 14, dalam terjemahan ITB disebutkan bahwa Lucifer dibuang ke bumi, tetapi sebenarnya bumi diciptakan bukan utk dihancurkan oleh Lucifer, dan Lucifer sbnarnya diusir dari sorga, tdk tau ntah kemana dia mau pergi, tapi akhirnya dia ke bumi yg baru diciptakan utk mengacau. Justru karena Allah sdh tau Lucifer bakal mengacau nantinya ketika bumi diciptakan utk manusia, maka Allah Bapa menyiapkan Kristus utk menebus, sbg pembela manusia yg berdosa itu.
Dari Kej 1:2a kita bisa tau bahwa ketika kejatuhan iblis itu, dan mempengaruhi Hawa untuk menyerahkan otoritas utk menguasai bumi itu, sehingga iblis dapat menjadi "penguasa udara". So.. Dengan mengerti hal ini, kita dapat tau bahwa di dalam dunia ini pasti penuh dengan kejahatan, karena di di kuasai oleh iblis. Kematian Yesus di kayu salib merebut kembali org 2 yg dikuasai iblis itu. (Dosa yg dilakukan manusia adalah pindah payung dari Allah kepada iblis. Di sini perlu intervensi Allah, karena manusia tdk dapat keluar sendiri dari kondisi kehancuran, terjebak di kekuasaan iblis, tanpa campur tangan dari luar dirinya, which is Allah Bapa).
Kondisi manusia, dalam kehancuran, dosa dan di bawah murka Allah ini (Ef 2:1-3) disebabkan oleh dunia, daging dan iblis. Makanya di PB (di PL juga, tapi gw baru pelajari yg di PB) setiap kali kita temukan kata "dunia" which is "kosmos" pasti mengarah kepada makna sesuatu yg jahat. (Saya sering membandingkan menurut ukuran antara "kosmos" dan "ge" yg keduanya berarti dunia, tetapi selalu diprotes karena "kosmos" biasanya diartikan sebagai sesuatu yg jahat. Seperti halnya kita menyebutkan "ihh... Duniawi banget dia ya").
Istilah "penguasa dunia" ini membuat kita mengerti bahwa orang baik pun dapat mengalami hal yg tidak baik, karena kita masih tinggal di dunia yg jahat ini. Kita sering bertanya "mengapa orang baik bisa sakit parah, apa Tuhan tidak peduli?". No.. Dunia ini memang susah terkorupsi, sdh terpengaruh yg jahat2, itulah tugas kita manusia sbg terang utk memperbaiki keadaan itu, bukan utk terpengaruh, mengeluh. Kita masih ada di dalam dunia, siapa saja bisa sakit apa saja, karena kita masih mengihirup udara yg mana kita tau siapa penguasa udara itu. Ya.. Siapa yg ga mau terkontaminasi dengan hal yg jahat, ya silahkan check out dari dunia ini. Intinya marilah kita hidup bijaksana walaupun kita hidup di tempat yg tidak baik.
Dalam hidup kita, kita bisa saja harus bekerja dengan org yg menyakiti kita, mengatakan hal yg jahat tentang kita, tetapi karena kita tau tujuan (purpose) dari apa yg kita kerjakan makanya kita harus bijaksana hidup berdampingan dengan org seperti itu. Saya masih belajar dalam hal ini, dan kagum terhadap org2 yg mampu berpegang pada integritasnya, demi tujuan bersama yg indah, mereka rela bekerjasama dengan org2 yg telah menyakiti mereka. Ya.. Memang seharusnya begiu. Yesus pun harus hidup di dunia selama 33 tahun utk tujuan (purpose) menebus manusia berdosa. Yesus juga tdk hidup mulus tanpa dijelekin, tanpa dijahatin, tanpa dimaki. Tetapi Dia, dengan integritas-Nya, Ia sadar bahwa Ia adalah agen sorga yg punya tugas khusus, sehingga dapat bertahan 33 tahun di dunia ini. Ia mengikuti semua proses di dalam dunia ini.
Mari kita belajar dari Yesus utk tetap jaga integritas demi mencapai purpose menjadi garam dan terang dunia, sambil menantikan kedatangan Kristus kedua kali.
Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT
Senin, 25 November 2013
Kuciptakan... Kubentuk... Kujadikan
Apa kabar semua? Kemaren kami baru saja siaran radio pertemuan yang ke-4, dengan topik "Grace meets Faith". Kalau saja pendengarnya masih belasan tahun, pastinya gw dah melantur membuat drama kisah cinta antara Grace dan Faith. Dalam siaran ini harus lebih fokus dan mengontrol diri, ga pake idealisme, tapi berdasarkan pesan sponsor saja. haha. Di blog inilah saya dapat mengumbar idealisme.. upss... walaupun demikian harus kontrol diri juga. Btw, kemaren itu adalah sesi yang agak berat. Bukan secara materi tetapi dalam hal lainnya. Dalam perjalanan ke tempat siaran, kami mengalami little accident, but thanks God, semuanya dapat teratasi dengan baik. Dan mulai dari sabtu malam kami tidak dapat tidur sampae jam 2 pagi, akibatnya tidak dapat ke gereja pagi, dan harus gereja siang. Macetnya ampun. Dan dalam perjalanan ada teman yang butuh pertolongan, kami memilih untuk menolong, karena menurut kami, tidak akan tenang duduk di gereja jika ada teman yang butuh pertolongan namun tidak dapat ditolong. Lenkaplah...
Tujuan dari siaran sesi ke-4 ini adalah supaya ada yang menerima Yesus sebagai Tuhan dan juruselamat. Bukan menerima kristen sebagai agama, itu hal yang berbeda. Secara singkatnya keselamatan adalah pertemuan antara faith and grace. Pembaca dapat melihatnya nanti di sesi Efesus 2:1-10. Sampai artikel ini ditulis, sesi yang bagian itu belum dituliskan.Saat mempersiapkan materi Efesus 2:1-10 itu saya mendapatkan gambaran (dari seorang penulis yang ahli) bahwa Efesus 2:1-3 itu pararel dengan Kejadian 1:2a, yaitu keadaan yang kacau balau (cheos), saya tidak terlalu ngehh.. dan menganggapnya sebagai sesuatu yang biasa aja. Namun saat siaran baru nyadar akan banyak hal yang bisa digali dari situ. This is amaze me. Benar-benar seperti dapet harta karun. haha... Itulah tujuan artikel yang ini ditulis.
Mari kita mulai... Kata "menciptakan' yang paling kita ingat pastinya Kej 1:1.
Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi. Bumi belum berbentuk dan kosong; gelap gulita menutupi samudera raya, dan Roh Allah melayang-layang di atas permukaan air. (Kej 1:1-2 ITB)
Dalam bahasa Inggris disebut "created", kalau diterjemahkan ke bahasa Indonesia, menjadikan, membuat, mewujudkan. Kata Ibrani yang digunakan dalam Kej 1:1 untuk "created" adalah "bara". Menurut WordStudy dari e-sword, kata "bara" ini hanya digunakan oleh Tuhan saat menciptakan langit dan bumi dan isinya, manusia. Hanya Tuhan lah yang menjadi subject dalam menggunakan kata "bara" ini. Menurut kamus BDB (Brown-Driver-Briggs), kata "bara" ini adalah "to create, shape, form" (to shape, fashion, create (always with God as subject) of heaven and earth, of individual man, of new conditions and circumstances, of new conditions and circumstances). Menurut BDB, selain Tuhan sebagai subject yang memakai kata ini, "bara" juga bisa dipakai oleh Tuhan atau manusia untuk to be created of heaven and earth, of birth, of something new, of miracles.In the beginning God created the heavens and the earth. Now the earth was formless and empty, darkness was over the surface of the deep, and the Spirit of God was hovering over the waters. (Gen 1:1-2 NIV)In the beginning God created the heaven and the earth. And the earth was without form, and void; and darkness was upon the face of the deep. And the Spirit of God moved upon the face of the waters. (Gen 1:1-2 KJV)
Secara singkat, defenisi dari BDB ini membawa kita ke Yesaya 43:7, yang memuat ketiga kata "to create, shape, form"
semua orang yang disebutkan dengan nama-Ku yang Kuciptakan untuk kemuliaan-Ku, yang Kubentuk dan yang juga Kujadikan!" (Yes 43:7 ITB)everyone who is called by my name, whom I created for my glory, whom I formed and made." (Isa 43:7 NIV)Even every one that is called by my name: for I have created (H1254 bara) him for my glory,I have formed (H3335 yatsar) him; yea, I have made (H6213 asah) him. (Isa 43:7 KJV)
ok dehh.. artikel ini harus pending, tanpa tau apa isinya... maaf.. nanti di sambung.
Kamis, 21 November 2013
Efesus 1:1-2 "Salam"
IBIS
Terjemahan Bebas
Saya disunat ketika berumur delapan hari. Saya lahir sebagai seorang Israel, dari suku bangsa Benyamin; saya orang Ibrani asli. Dalam hal ketaatan pada hukum-hukum agama Yahudi, saya adalah anggota golongan Farisi. Saya malah begitu bersemangat sehingga saya menganiaya jemaat. Kalau dinilai dari segi hukum agama Yahudi, saya seorang baik yang tidak bercela. Tetapi karena Kristus, maka semuanya yang dahulu saya anggap sebagai sesuatu yang menguntungkan, sekarang menjadi sesuatu yang merugikan. Bukan saja hal-hal tersebut; tetapi malah segala sesuatu saya anggap sebagai hal-hal yang hanya merugikan saja. Yang saya miliki sekarang ini adalah lebih berharga: yaitu mengenal Kristus Yesus, Tuhanku. Karena Kristus, maka saya sudah melepaskan segala-galanya. Saya anggap semuanya itu sebagai sampah saja, supaya saya bisa mendapat Kristus, dan betul-betul bersatu dengan Dia. Hubungan yang baik dengan Allah tidak lagi saya usahakan sendiri dengan jalan taat kepada hukum agama. Sekarang saya mempunyai hubungan yang baik dengan Allah, karena saya percaya kepada Kristus. Jadi, hubungan yang baik itu datang dari Allah, dan berdasarkan percaya kepada Yesus Kristus. (Fil 3:5-9 IBIS).
Karena menurut pendapat saya, kami rasul-rasul, sudah dijadikan oleh Allah sebagai tontonan di depan manusia dan para malaikat. Kami seperti orang-orang hina yang dijatuhi hukuman mati di depan umum dan disorak-soraki oleh dunia (1 Kor 4:9 IBIS).
KJV "Grace be to you, and peace, from God our Father, and from the Lord Jesus Chris"t.
ITB "Kasih karunia dan damai sejahtera dari Allah, Bapa kita dan dari Tuhan Yesus Kristus menyertai kamu".
NIV "Grace and peace to you from God our Father and the Lord Jesus Christ".
TSI "Doa saya, Allah Bapa dan Tuhan kita Kristus Yesus akan selalu baik hati kepada kalian masing-masing dan menjagamu supaya kamu hidup dengan tenang dalam perlindungan Bapa dan Tuhan kita".
IBIS "Saya, Paulus, rasul Kristus Yesus atas kehendak Allah, mengharap semoga Allah Bapa kita dan Tuhan Yesus Kristus memberi berkat dan sejahtera kepada kalian".
The Message "I greet you with the grace and peace poured into our lives by God our Father and our Master, Jesus Christ".
Efesus 1:2 ini adalah salam Paulus yang paling khas, yaitu “grace and peace”. Jika kira search di searach engine aplikasi alkitab apapun, kita akan menemukan grace and peace pada semua surat Paulus, mulai dari Roma sampai Filemon. Salam ini sangat unik, jika kita ulik grace dalam bahasa Yunani (charis) artinya halo, dan peace dalam bahasa Ibrani (shalom) artinya halo. Jadi kedua kata ini adalah salam ketika bertemu. Jadi paling tidak salam ini diberikan kepada orang Yunani dan Ibrani sekaligus. Walaupun Paulus diutus untuk orang bukan Yahudi (Ibrani) tetapi di antara orang-orang Yunani itu ada juga orang Ibrani yang berbahasa Yunani, sehingga mereka dapat mengerti salam Paulus ini.
“Grace and Peace” adalah suatu kondisi ideal yang seharusnya, seperti kata-kata positif yang diberikan Paulus sebagai salam. Grace juga berarti cheer up, bergembira. Peace juga berarti harmoni. Jadi ini adalah kondisi yang didambakan semua orang, kondisi ideal. Bayangkan, Paulus ketika menulis beberapa surat-suratnya dalam keadaan di penjara, dalam kondisi yang tidak enak tetapi ia menyampaikan salam yang mengharapkan orang yang menerima salam mendapatkan kondisi ideal. Jadi sesuatu ideal itu bukan karena pengalaman yang sedang kita alami, baik kondisi ga enak, ataupun kondisi yang enak. Kita perlu mengatakannya dan melakukannya. Walaupun perkataan salam itu sangat simple, tetapi sesuatu yang simple itu sangat berarti, applicable. Ada pepatah yang mengatakan less is more.
Dalam terjemahan TSI, langsung memberikan makna untuk grace and peace, Paulus member salam tetapi sebenarnya salamnya itu berupa doa, ia mengharapkan Kristus Yesus akan selalu baik hati dan menjaga supaya kita hidup dengan tenang dalam perlindungan Bapa dan Tuhan kita. Dengan membaca terjemahan ini kita menjadi mengerti kondisi ideal yang sebenarnya yang Tuhan kehendaki. Bukan hanya kita yang menerima surat yang mendapatkan kondisi ideal ini, tetapi sebenarnya Paulus mengajarkan kepada semua penerima suratnya agar dapat melakukan hal yang sama yang ia telah lakukan. Paulus sedang membangun suatu culture baru agar di bumi ini tercipta grace and peace. Paulus sebenarnya sedang membangun brand image, dalam kondisi apapun kita harus dapat menyampaikan atau memberikan grace and peace kepada semua orang. Dan sebelum memberikan atau menyampaikan grace and peace ini tentunya kita harus merasakannya terlebih dahulu. Brand image yang dibangun itu harus meliputi seluruh hidup kita. Misalnya, kondisi ideal yang kita inginkan adalah “kota yang bersih”, berarti image bersih itu harus ditularkan kepada semua orang di sekitar kita. Dalam membangun image ini perlu integritas untuk melakukannya, baik ada orang yang melihat atau tidak melihat tetap dilakukan, baik oleh kita sendiri atau orang yang telah kita tularkan.
Dalam terjemahan The Message, grace and peace poured into our lives by God our Father and our Master, Jesus Christ. Jadi grace and peace itu, kebaikan hati Allah dan perasaan tenang itu dicurahkan oleh Allah sendiri. Kata peace dalam bahasa Yunani eirene, berarti health, welfare, prosperity, every kind of good, "the way of peace" means the way of happiness. Peace juga berarti memberikan pelukan yang menenangkan. Ketika kita dibenarkan melalui iman dalam Kristus kita mendapatkan peace juga. “Therefore, since we have been justified through faith, we have peace with God through our Lord Jesus Chris” (Rom 5:1 NIV).
Peace juga berarti semua persoalan bisa cepet beres. Jika engkau berbuat begitu, dan hal itu diperintahkan Allah kepadamu, engkau akan mampu melakukan tugasmu, dan semua orang akan pulang dengan puas karena persoalan mereka cepat dibereskan." (Kel 18:23 IBIS).
Dalam Kel 14:14 adalah ayat favorit orang Kristen, “Tuhan berperang untuk kita dan kita diam saja”. Mari kita lihat versi lain
The LORD will fight for you; you need only to be still. NIV
GOD will fight the battle for you. And you? You keep your mouths shut! The Message
The Lord himself will fight for you. Just stay calm. NLT
The Lord will fight for you, and you shall hold your peace and remain at rest. Amplified Bible
Banyak sekali orang yang mengartikannya bahwa kita hanya duduk-duduk saja, tidak melakukan apa-apa tiba-tiba berkat datang. Bukan seperti itu. Jika kita melihat di sini isunya adalah hati kita harus dalam keadaan damai dalam melakukan segala pekerjaan kita, jangan grusa-grusu, ngomong sana-sini, sangkin stressnya jadi gossip sana-sini. Sebenarnya yang kita perlu adalah be still, keep your mouths shut, stay calm, your peace and remain at rest. Tuhan pasti tolong kita, akan menepuk pundak kita, memeluk kita supaya kita tetap dapat mengerjakan dan menyelesaikan pekerjaan kita dengan sebaik mungkin. Dalam keadaan hati damai, persoalan apapun sebenarnya kita mampu menyelesaikannya. Masalah yang besar hanya perlu di break down, kemudian diidentifikasi, kemudian diselesaikan satu-satu.