Hanya pikiran spontan... hanya belajar...
Tampilkan postingan dengan label artikel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label artikel. Tampilkan semua postingan

Rabu, 16 Juli 2014

Budaya Aneh

Belakangan ini banyak sekali tersebar isu-isu budaya. Mungkin kita tidak bisa lagi menyadarinya, karena kita ada di dalamnya, kita menjadi bagian dari budaya tersebut. Seakan kita tidak dapat keluar dari situ dan ketika kita bercermin pada Firman Tuhan sekalipun, budaya itu masih menjadi kubu-kubu yang menghalangi kita bertemu dengan esensi Firman Tuhan yang sebenarnya. Maksud saya adalah intepretasi terhadap Firman Tuhan itulah yang justru menjadi kubu-kubu yang menghalangi kita dapat mengerti Firman Tuhan yang sesungguhnya.

Banyak sekali isu-isu budaya yang sering dikecam di panggung gereja tapi sebenarnya kita adalah salah satu dari pelakunya. Misalnya, budaya panik. Mengapa saya katakan "budaya"? Mari kita perhatikan di jalan raya, saat macet. Hanya karena kita panik, ngikutin kendaran di depan kita aja, tanpa melihat rambu apakah sudah waktunya jalan atau belum. Akibatnya macet total. Sebenarnya jika kita tidak mengembangkan budaya panik dan budaya "belum tau dia siapa gw", pastilah kemacetan dapat terurai. Saya tidak bermaksud merendahkan para pengendara motor, namun kenyataannya motor adalah kendaraan yang paling tidak tertib berlalu-lintas. Kami juga kadang harus naik motor untuk jarak tempuh yang jauh nan macet, karena kepraktisan di ibu kota. Kami sering memperhatikan pengendara motor yang suka nyempil di sebelah kanan, berjalan lambat, minta dihormati, dan sesuka hati mengambil jalur. Mari kita saling menjaga ketertiban berlalu-lintas. Mari kita juga menjaga hati kita masing-masing. Hati kita adalah tanggung jawab kita, bukan tanggung jawab orang lain, sehingga kita tidak dapat lagi berkata "abis dia bikin gw emosi sih".

Itu masih di satu segmen kecil saja. Masih banyak lagi area budaya yang aneh. Misalnya dalam hidup berumah tangga. Dalam hidup sehari-hari kita mendengar bahwa istri harus melayani suami, sehingga suami berprilaku seenaknya terhadap istri. Namun kita belajar dari Firman Tuhan tidaklah demikian seharusnya. Suratan Efesus menjelaskan bahwa suami istri harus saling submit, artinya harus saling melayani. Belum lagi soal menghormati orangtua. Dalam budaya kita sehari-hari, kita mendengar bahwa orang tua harus ditaati. Padahal Firman Tuhan mengatakan bahwa kita harus menghormati orang tua. Bedanya adalah ketika kita masih dalam tudung orang tua, kita memang harus hormat dan taat kepada orang tua, tetapi saat kita membangun rumah tangga sendiri, kita tetap harus hormat kepada orang tua, dan taat kepada orang tua itu adalah pilihan, bukan keharusan. Mengapa begitu? Karena saat kita berumah tangga kita membentuk peraturan yang baru, seperti negara baru, dimana suami-istri yang menentukan peraturan itu bukan dari pihak luar, termasuk orang tua. Memang budaya yang satu ini berat untuk dilakukan tetapi kedua belah pihak antara orang tua dan anak harus saling mengerti. Suami adalah pemimpin yang menjadi penentu apakah saran orang tua harus diikuti atau tidak. Namun halnya menghormati, mamang tidak ada pilihan, menghormati orang tua itu adalah suatu keharusan, dalam batasan Firman Tuhan. Maksudnya ketika ortu meninggal tidak perlu diberikan penghormatan berlebihan seperti berdoa di pusaranya ataupun yang berkaitan denan itu.

Budaya lainnya seperti lebih mengutamakan pelayanan gerejawi dari pada pelayanan di dalam keluarga sendiri. Saya suka miris liat hamba-hamba Tuhan yang dipakai luar biasa namun tidak akur di rumah sendiri, antara suami-istri dan anak-anak. Sebaiknya dalam hal ini kita mengatur prioritas kita. Jika semuanya adalah prioritas maka sebenarnya tidak ada prioritas. Jika semuanya jadi terpenting maka semua jadi tidak penting. So.. mari kita ijinkan juga pendeta kita atau hamba Tuhan yang kita undang melayani untuk berkata "tidak" ketika kita undang. Kita juga belajar untuk berkata "tidak" jika diperhadapkan dengan "pelayanan besar" dengan "sudah lama tidak bertemu bercengkrama dengan keluarga".

Hal lainnya, banyak sekali anak-anak yang baru pulang dari luar negeri atau bersekolah di sekolah internasional memanggil orang yang lebih tua darinya dengan sebutan nama langsung tanpa ada kata "bapak", "ibu", "kakak", "abang", "om", "tante". Well.. kita tinggal di Indonesia, walaupun sepertinya keren untuk bisa langsung menyebut nama orang tersebut, namun secara Indonesia, kita menjadi orang yang tidak sopan. Lebih baik tanyakan dahulu, lawan bicara kita itu mau dipanggil dengan sebutan apa. Memang ada beberapa orang yang lebih suka langsung dipanggil nama, apalagi orang bule. Di dalam Alkitab, kita juga dapat menemukan Yesus menyebut ibunya dengan sebutan "Perempuan" atau "Wanita", atau "Woman". Memang terdengar kasar. Tetapi kita harus mengembalikannya kepada konteks pada saat itu. Dalam Yoh 2, belum waktunya bagi Yesus untuk melakukan mujizat namun ibunya memaksa, Maria sudah menunggu waktu ini bertahun-tahun.Ia menyimpan segala perkara dalam hatinya, artinya Maria selalu mengingat janji Tuhan itu (Luk 2:19;51). Ketika Maria mengharapkan Yesus sebagai Mesias yang harus membuat mujizat saat itu, maka Yesus pun bertindak sebagai Mesias dan menegur Maria dengan keras. Walaupun demikian, Yesus kembali merendahkan hatiNya, melakukan apa yang menjadi keinginan Maria, ibuNya. So.. dalam hal ini, kita tidak dapat menyetarakannya dengan budaya kita.

Hal lain yang patut kita perhatikan adalah "budaya ngikut". memang baik sekali untuk mengikuti pemimpin kita, pendeta kita, gembala sidang kita. Namun, mereka juga adalah manusia, kita harus mempelajari Firman Tuhan dengan sungguh-sungguh, sehingga jika kotbah yang kita dengar tidak tepat dengan apa yang FT katakan, kita bisa tidak mengikutinya. Kita juga harus mendoakan gembala sidang kita supaya mendapat pewahyuan dari Tuhan. Saya tidak menyalahkan hamba Tuhan, pendeta, gembala sidang, namun saya melihat suatu keseragaman yang agaknya salah kaprah yang hampr menyeluruh di beberapa gereja, walaupun mereka beda sinode. Kenapa hal ini bisa terjadi. Seperti tidak dapat dibilangin lagi, sudah seperti kubu-kubu, benteng pertahanan yang sangat kokoh yang tidak dapat ditembus.Dalam hal ini saya tidak berniat untuk menyerang pendeta tertentu. Saya hanya bicara secara umum. Saya mendengarkan siaran radio rohani, media televisi siaran rohani, namun isinya sama saja. Saya juga pernah baca sumbernya, tetapi intepretasi FT yang diberitakan jauh dari konteks, tetapi banyak pengikut intepretasi tersebut. Aduh.. mungkin lebih famous membaca intisari renungan harian, buku tafsiran alkitab daripada alkitab itu sendiri. Semua orang pasti pernah salah mengintepretasikan, namun ada Roh Kudus. Ketika Roh Kudus menegur, kita harus mendengarkan.Biasakan mendengar suara Roh Kudus dari hal-hal kecil, agar ketika kita dalam hal-hal besar kita bisa mendengarkanNya.

Saya pikir masih banyak budaya aneh di sekitar kita. Aneh banget. Mari kita memulai dari diri sendiri, membangun budaya baru yang sesuai dengan Firman Tuhan. Mari belajar Firman Tuhan lebih lagi.

Sabtu, 24 Mei 2014

Intimacy - Keintiman

Hai apa kabar para pembaca. Hmm... senang sekali bisa menggoreskan sesuatu di blog ini lagi. Judul yang dipilih penulis kali ini bukan karena penulis begitu berpengalaman. Penulis hanya merenungkan dan mengomentari serta ingin berbagi saja. Untuk urusan keintiman saya pribadi jauh dari sempurna, namun setiap orang punya level-level belajar dalam hidup.

Sesuai dengan judulnya "keintiman", bahasa ini akrab sekali didengar dalam rumah tangga. Ataupun gereja juga sudah mengadopsi bahasa ini untuk menggambarkan hubungan dengan Tuhan. Ya memang itu yang Alkitab katakan, bahwa hubungan gereja dengan Kristus itu digambarkan dengan hubungan suami istri. Banyak orang kristen tidak dapat mengerti ini karena mereka tidak pernah melihat keharmonisan dalam keluarganya, ataupun tidak melihat keharmonisan di antara papa mama dalam rumah. Kita sebenarnya tidak perlu menyalahkan iblis, secara dia dah salah. I meant dengan mengkambinghitamkan apapun membuat diri kita melepaskan tanggung jawab. Kita sudah tau dan sadar bahwa iblis adalah musuh kita. Anehnya ketika kita tau ada musuh di dekat kita, kita justru bukan melawannya atau mengusirnya, tapi justru menyalahkan dan betah dengan prinsip-prinsip musuh. Aneh bukan? Intinya di sini adalah "kesadaran". Jika kita ga sadar maka kita ga tau harus berbuat apa. Ayat yang berkata "Berjaga-jaga dan berdoalah...", maksudnya adalah sadarlah, jangan mabok, jangan terbuai.

Mari kita ingat kembali bagaimana pertama kali sikap manusia ketika jatuh ke dalam dosa. Adam melepaskan tanggung jawab dan menyalahkan Hawa, dan Hawa menyalahkan ular. Bagaimana manusia bisa jatuh ke dalam dosa? Iblis memakai Firman Tuhan, sehingga menarik perhatian Hawa untuk berkomunikasi dengannya. Kemudian iblis membelokkan "sekali-kali kamu tidak akan mati". Di sini Hawa seperti masuk ke alam yang membuainya, ia tidak sadar, hanya karena ia tidak tau Firman Tuhan secara lengkapnya. Hawa tertipu. Walaupun Hawa yang mengulurkan tangannya memngambil buah terlarang dan memberikannya kepada Adam, namun Kej 3:9 (IBIS, KJV,ESV, NLT) mengatakan bahwa Allah mencari Adam, meminta pertanggungjawabannya. Adam tau buah apa yang disodorkan oleh Hawa. Adam tau apa yang dilakukan Hawa namun Adam seperti terbuai dan tidak sadar dan mulai menyalahkan. Ini seperti "sudah dari sononya", manusia itu menyalahkan iblis dan melepas tanggung jawabnya. Ini tidak dibenarkan sama sekali, sehingga ada perintah yang mengatakan
"Berjaga-jagalah dan berdoa supaya kamu jangan jatuh ke dalam pencobaan: roh memang penurut, tetapi daging lemah" Matius 26:41; Markus 14:38
"Sadarlah dan berjaga-jagalah! Lawanmu, si Iblis, berjalan keliling sama seperti singa yang mengaum-aum dan mencari orang yang dapat ditelannya" 1Petrus 5:8
Ayat di atas adalah peringatan supaya kita jagan terbuai, karena iblis memang selalu memantau, berjalan berkeliling, ga jauh. Namun jika kita mengahabiskan waktu untuk ngurusin musuh, maka kita bisa lupa tujuan awal kita. Dan kehabisan tenaga untuk melakukan apa yang seharusnya kita lakukan. So... apa yang harus kita lakukan?
"Sebab itu ambillah seluruh perlengkapan senjata Allah, supaya kamu dapat mengadakan perlawanan pada hari yang jahat itu dan tetap berdiri, sesudah kamu menyelesaikan segala sesuatu. Jadi berdirilah tegap, berikatpinggangkan kebenaran dan berbajuzirahkan keadilan,kakimu berkasutkan kerelaan untuk memberitakan Injil damai sejahtera;dalam segala keadaan pergunakanlah perisai iman, sebab dengan perisai itu kamu akan dapat memadamkan semua panah api dari si jahat,dan terimalah ketopong keselamatan dan pedang Roh, yaitu firman Allah,dalam segala doa dan permohonan. Berdoalah setiap waktu di dalam Roh dan berjaga-jagalah di dalam doamu itu dengan permohonan yang tak putus-putusnya untuk segala orang Kudus" Efesus 6:13-18
Senjata yang pertama kali disebut adalah ikat pinggang. Prajurit Roma terlebih dahulu mengenakan ikat pinggang yang lebarnya sekitar 6-9 inci. Gunanya untuk menyantelkan perlengkapan yang lainnya di tubuhnya. Dan lagi ingat kah kita ketika Petrus dalam penjara, kemudian malaikat melepaskan belenggunya. Ketika Petrus sudah bangun, perintah selanjutnya adalah "ikatlah pinggangmu...". Jenis fashion ini memang asing bagi kita. Baik orang Yahudi, Roma dan Yunani mengerti akan jenis fashion ini sehingga kita untuk mengerti konteks ini dapat membayangkan juga apa yang terjadi pada zaman itu. Hal yang kita mengerti zaman sekarang adalah "pinggang adalah pusat kekuatan, sehingga Roh Kudus melalui Paulus menuliskan hal ini untuk orang Efesus dan juga untuk kita". Okelah itu juga bisa.

Ikat pinggang kebenaran. Firman Tuhan adalah kebenaran. Dalam terjemahan TSI dikatakan "ajaran yang benar". Artinya kita mengikatkan kebenaran itu di pinggang kita sebagai kekuatan. Bedanya Adam pertama (which is Adam sendiri) dengan Adam kedua (which is Yesus) ketika mereka dalam pencobaan, Yesus menggunakan Firman Tuhan (Mat 4, Luk 4 -- Pencobaan di gurun). Dengan begitu kita harus belajar Firman Tuhan. Membaca Firman Tuhan adalah jalan mengenal Tuhan lewat tulisan, agar kita dapat intim dengan Tuhan. Usaha untuk  intim itu sudah datang dari Tuhan sendiri, namun kita juga harus menyambutnya.

Manusia diberikan otak sebalah kiri yang lebih logis, dan otak sebelah kanan yang lebih perasa. belajar Firman Tuhan dimulai dengan otak sebelah kiri, kemudian sensitifitas yang diproduksi di otak sebelah kanan dapat membuat kita dapat merasakan kehadiran Tuhan itu. Kedua belah otak ini haruslah digunakan. Orang yang hanya memakai otak sebelah kirinya akan menjadi sangat kaku, sebaliknya orang yang menggunakan otak sebelah kanannya saja akan dangkal.
knowledge without intimecy, cold.
intimecy without knowledge, shallow.
Sebenarnya hal dapat mendengar suara Tuhan, tidak perlu terlalu dibesar-besarkan, ya karena memang seharusnya. kalau saudara merasa belum pernah mendengar suara Tuhan, mungkin Saudara belum mengasah kemampuan otak sebelah kanan saja. Jika saudara merasa selalu mendengar suara Tuhan dan tidak dapat mendengar teguran saudara-saudari rohani, bapak rohani, mungkin saudara belum mengasah kemampuan otak sebelah kiri.

Beberapa minggu yang lalu saya mendengar kotbah "jangan batasi keintiman dengan Tuhan hanya dengan membaca alkitab dan berdoa saja". Ya saya setuju. Karena kadang-kadang Tuhan mengintervensi kita saat kita sedang beraktifitas dan meminta waktu kita untuk mendengarkan Dia. Saya punya pengalaman, ketika sedang di bioskop menonton film action, saya diintervensi dan Tuhan bicara sesuatu, sehingga saya harus nonton ulang agar ngerti filmnya. Akibatnya saya addict ke bioskop, kali aja Tuhan mau bicara lagi.... hahahaha... *just kidding*.

Memang benar, beberapa perwujudan intim dengan Tuhan itu melalui baca alkitab dan berdoa (terutama berdoa). Tapi jika saudara membatasi pengertian Saudara dengan hal ini saja, maka coba kita telaah. Kita sering membaca status fb orang yang pengen disebut orang rohani, "abis doa puasa nih", atau "waktunya untuk berdoa", bayangkan orang mau berhubungan intim bilang-bilang. Hah... tujuannya opo??

Keintiman kita dengan Tuhan juga dapat nyata dalam hubungan dalam rumah tangga. (Well.... ini khusus untuk yang sudah menikah, maaf ya yang belum menikah, jangan lakukan hubungan intim di luar pernikahan). Kita juga semakin mengerti bagaimana keinginan Tuhan ketika kita mengerti keinginan pasangan kita. Jika komunikasi di antara suami istri saja bisa garing, apalagi komunikasi dengan Tuhan, akibatnya berdoa, komunikasi dengan Tuhan hanyalah upacara keagamaan saja. Ketika suami sistri ga ngomongan lebih dari satu hari, apalagi berhari-hari pernikahan dalam keadaan bahaya. Begitu juga dengan komunikasi kita dengan Tuhan.

Kita sering mendengar orang-orang dalam doa "penuhi kami Tuhan, puaskan kami". Kadang-kadang dalam hubungan intim suami istri juga sering terjadi seperti ini. Salah satu pihak ingin dipuaskan terus menerus tanpa melihat kebutuhan pasangannya. Sepertinya hubungan berjalan baik-baik saja, tetapi seringkali ada yang mengganjal. Memang Tuhan tidak akan ngambek ketika kita meminta terus, tetapi hal tersebut membuat kita ga dewasa dan dalam hal lainnya kita sering merengek-rengek saja, teriak-teriak "kenapa Tuhan... kenapa ini terjadi". Marilah kita bersikap dewasa, mempunyai hati untuk memberi, ga hanya mau meminta saja. Saudara yang sudah menikah dan sudah dewasa pasti mengerti akan hal ini "memberi tidak hanya meminta". Ga hanya suami yang harus dilayani, ga hanya istri yang harus dilayani. Jika kita dapat mengerti ini, maka kita dapat memuji Tuhan ketika keadaan apapun yang kita alami. Berkat, bukan satu-satunya yang kita kejar. Keintiman dalam rumah tangga lebih dari sekadar harta yang harus dikumpulkan. Kebahagiaan akan dicapai ketika keintiman itu tercapai. Ketika keintiman suami istri tercapai, maka keduanya dapat memuji Tuhan dengan bebas, dapat melayani dengan hati sukacita dan damai sejahtera, keduanya juga tidak perlu memusatkan pikiran kepada harta saja, tetapi pastinya berkat-berkat itu akan datang bersama dengan kebahagiaan rumah tangga.

Saya tau bahwa saya tidak begitu pintar dalam hal keintiman, hubungan, I'm not people oriented. Tetapi setiap orang harus belajar. Apa yang kita lihat di bumi ini demikianlah di sorga. jika kita dapat mengelola hubungan, keintiman suami istri, kita juga tidak sulit mengelola keintiman dengan Tuhan. Apa saja yang tidak kita kelola cenderung hilang. Apa yang saya tulis di sini juga menjadi bukti bahwa saya juga mengelola hubungan suami istri kami dalam rumah tangga. Tidak mudah tetapi bisa. Kata kuncinya adalah "sadar". Ketika kita ga sadar, ada orang-orang yang akan menyadarkan kita. Klo belum sadar juga, Tuhan pasti akan menyadarkan kita. Klo Tuhan dah bicara audible, berarti klo ga karena kita bandel atau kita harus memperingatkan orang lain yang bandel supaya sadar. Intinya jangan pernah hiraukan suara hati nuranimu jika ingin mendengar Tuhan bicara audible.

Jika Saudara merasa Tuhan tidak mau bicara dengan Saduara, mungkin Saudara harus belajar beberapa hal sebelum mendengar suara Tuhan secara langsung. Coba perhatikan para nabi yang mendengar suara Tuhan, ada dari mereka yang ga bisa makan, ada yang gemeteran. Bayangkan Saudara adalah Maria, tiba-tiba didatengin malaikat, bagaimana perasaan Saudara. Pastinya Maria saat itu takut. Bagaiamana jika Saudara disuruh Tuhan menyampaikan pesan untuk pendetamu, klo nyeri di bagian dadanya harus segera diperiksakan ke dokter, Tuhan mau agar ia menjaga kesehatannya. Hmm... saya mengenal seorang anak berusia 10 tahun, sekitar 23 tahun yang lalu, yang mendapat penglihatan tentang gembalanya, tetapi karena ia sangat takut ia tidak pernah menyampaikan hal itu. Tetapi 11 tahun kemudian Tuhan bicara hal yang sama melalui pendoa syafaat di gerejanya dan pendoa tersebut menyampaikan hal itu ke gembalanya, dan gembalanya memberitakannya di mimbar. anak itupun ketakutan dan mengingat kembali penglihatan tersebut dan gemetar.

Keintiman dengan Tuhan, sulit didefenisikan, tetapi ketika kita berjalan dengan Tuhan, kita mengerti bahwa Tuhan ga mau jauh dari kita, Ia ingin selalu beromunikasi dengan kita. Tuhan ga hanya ingin menemui kita saat kita ada di ruang doa kita (walaupun berdoa berlama-lama di ruang doamu itu juga penting). Tuhan selalu ingin mengintervensi saat kita sedang kesulitan dan kesusahaan, namun Ia ingin melatih kita untuk dewasa. Salah satu cara mengenal Tuhan adalah dengan membaca alkitab. Ketika kita sibuk merengek minta dengar suara Tuhan, sebenarnya Tuhan ingin kita membaca surat cinta-Nya dulu sebelum akhirnya Ia memperdengarkan suara-Nya. Bacalah Alkitab!

Jumat, 28 Februari 2014

MARANATHA... Mesias akan Segera Datang!

Sebenarnya artikel ini seharusnya terbit sebelum natal 2013 tiba, tetapi saya terlalu banyak alasan sehingga tidak menuliskannya. Bukan hanya artikel ini tetapi banyak sekali artikel-artikel yang tidak sempat terbit, hanya terbang-terbang di pikiran dan lenyap bersama dengan memory pikiran yang menguap, alias LUPA. Hal yang paling disesali ketika melewati tahun 2013 lalu adalah saya hanya merelease 23 artikel saja di tahun 2013. Jika dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya, tahun 2013 adalah rekor paling buruk. Hmm... penyesalan selalu datang terlambat, karena jika terlalu dini datang namanya warning.

Tahun ini, hal yang paling ingin saya pelajari adalah pelajaran tentang akhir zaman. Dulu memang saya suka pelajaran tentang akhir zaman, sampai akhirnya saya menemukan banyak orang menjadi takut dan tidak mau berkarya lagi, maka saya kesampingkan terlebih dahulu pelajaran tentang akhir zaman. Tetapi... karena terlalu banyak yang sudah saya lupakan, saya harus mengingatnay kembali. Saya harus belajar lagi. Dukung saya!! haha.

Bicara soal akhir zaman tidak terlepas dengan "nubuatan". Yohanes sebagai penulis kitab Wahyu, ia menuliskan tentang masa depan dengan gaya bahasa zaman dia hidup. Gimana pun juga ia harus memperluas pengetahuannya secara cepat, mendeskripsikan sesuatu yang belum pernah ia lihat sebelumnya. Ga heran jika ia tercengang, bergidik, kerignat dingin, tidak bisa tidur, tidak bisa makan. Jika kita berpikir logis, mengetahui apa yang di depan kita, masa depan, terlebih dahulu tidak selalu menyenangkan, karena kita dituntut berpikir lebih luas, lebih jauh dari yang biasanya. Saya masih terkagum dengan Yohanes, bagaimana ia mendeskripsikan masa depan dengan bahasanya sendiri (dengan gaya bahasa masa lampau, dan bahasanya itu harus relevan di segala zaman). Bayangkan bagaimana seseorang yang hidup di tahun 1981 menjelaskan perkembangan internet di zaman ini (tahun 2014).

Banyak orang ingin mempunyai karunia bernubuat, menjadi nabi (mungkin karena Alkitab mengatakan "jangan banyak diantara kamu yang mau jadi guru") dan senang untuk mengatakan "Tuhan berkata kepada saya... ini itu...". Klo sudah Tuhan yang berkata, ya kita sdh tidak dapat berbuat apa-apa. Saudaraku... saya hanya mau bilang, setiap orang Kristen sudah seharusnya dapat mendengar suara Tuhan. Tetapi apapun yang kita dengar dari Tuhan itu, ada tujuannya masing-masing. Seorang nabi pun harus dapat mendengar nabi lainnya, tidak seharusnya ada kekacauan. Suara nubuatan haruslah berlandaskan Firman Tuhan, yaitu berlandaskan Firman yang tertulis di dalam buku Alkitab. Suara nubuatan juga harus ada dukungan dari suara nubuatan lain.

Beberapa waktu ini, mulai dari akhir tahun, pembukaan awal tahun, hingga kini, Indonesia diguncang oleh bencana. Kalau dulu bencana tsunami Aceh, orang bisa bilang karena Tuhan marah supaya banyak bertobat. Sekarang bencana banjir Menado, orang tidak bisa memberi alasan yang jelas lagi. Tidak kah aneh ada banjir di gunung? Orang kristen harus banyak belajar, jangan cepat bereaksi, jangan terlalu cepat mengambil kesimpulan yang hanya memberi makan jiwa, sedangkan secara logika tidak dapat diterima sama sekali. Mari kita belajar secara logis. Mari kita ajarkan generasi ini untuk berpikir, bukan haya menerima "berita cenayang".

Btw saya tidak menentang nubuat, saya hanya mau mengajak teman-teman muda untuk mengumpulkan data secara logis terlebih dahulu sebelum mengintepretasikannya.

Saya belajar  skema ini:
Hermeneutika -> Eskatology -> Eklesialogy -> Hermeneutika.

Hermeneutika itu ilmu tafsir, intepretasi
Eksatology itu ilmu tentang akhir zaman
Eklesialogy itu adalah ilmu tentang gereja

Jadi dari skema itu Penafsiran kita menentukan bagaimana kita dapat mengerti tentang akhir zaman. Pengertian kita tentang akhir zaman menentukan hidup kita dalam bergereja. Hidup bergereja akan menetukan penafsiran kita. So... ini seperti rantai yang tak terputus. Sebelum kita menafsirkan/ mengintepretasikan sesuatu harus ada data. Jika kita terlalu cepat untuk mengintepretasi, pengertian kita tentang akhir zaman pun akan sangat dangkal. Pengertian yang dangkal tentang akhir zaman akan membuat dangkal juga pengertian kita sebagai gereja, sehingga kita hanya berpikir "yang penting gw dah selamat", "mengutamakan 'grace' dan melupakan tujuan untuk 'melakukan perbuatan baik' ". Gereja seharusnya menjadi terang, tetapi masih end up menjadi garam. Akibatnya intepretasi ketika membaca alkitab pun menjadi sangat dangkal.

Selama ini memang ada gereja yang kuat di hermeneutika, tetapi lemah di eskatology, berarti ada yang nyangkut di hermeneutika. Ada juga yang menganggap diri kuat di eskatology tetapi sebenarnya output di eklesialogy sangat lemah, jadi sebenarnya input hermeneutikanya lemah. Ada juga gereja yang kuat di hermeneutika tetapi langsung cut off ke eklesiology, sehingga kita tau ada input yang kurang dari eskatology sehingga ekelsialogy (masih bisa berdiri tapi) kurang komplit. Aniway blum ada gereja yang sempurna, tetapi kita harus bekerja sesempurna mungkin, nanti "grace" yang akan membuat komplit.

Menanggapi soal bencana global, cuaca ekstrim tidak menentu, banyak orang kristen yang mulai menjadi cenayang, I meant mencari-cari hal-hal yang nge-roh, karena tidak mampu menjawab secara logis. Tidak ada yang salah untuk menilik beberapa nubuat dari beberapa orang yang berkarunia nabi, namun kita tidak perlu mengkultuskannya. Seolah-olah Mesias mau datang besok, akibatnya pekerjaan rutinnya menjadi terbengkalai. Ketakutan, heroic, reaktif. Artinya hanya cari Tuhan ketika lagi ada bencana aja.

Belakangan ini sangat banyak nubuat yang muncul ketika kematian Ariel Sharon. Banyak sekali broadcast link melalui bbm seperti http://dunia.news.viva.co.id/news/read/472669-kematian-ariel-sharon-dan-ramalan-kedatangan-al-masih. Masih banyak lagi. Okey.. saya tidak mau ketinggalan untuk menuliskan ini, walaupun sebenarnya sudah terlebih dahulu dituliskan oleh blog "Glory of God Ministries" (http://sonnyelizaluchu.blogspot.com/2014/01/rabi-kaduri-ariel-sharon-nubuatan.html). Saya tidak akan membahas ayat-ayat yang sudah dibahas di blog "Glory of God Ministries". Silahkan Saudara membacanya sendiri.

Saya akan membahas tentang nubuatan Mesias akan segera datang. Kenyataannya Mesias akan datang untuk kedua kalinya, apakah ada yang menubuatkannya dalam masa ini ataupun tidak ada. Ada nubuatannya pun tidak perlu dirisaukan dan menjadi takut. Mari kita menyikapi setiap nubuatan berdasarkan apa yang Alkitab katakan. Makanya perlu untuk membaca Alkitab dan mengerti tentang apa yang dibaca itu.

Seperti yang telah disinggung di atas, banyak orang yang membahas tentang Kaduri. Yitzhak Kaduri adalah seorang Yahudi Kabalah. Informasi singkatnya, Kabalah adalah paham Yahudi yang menganut mistisme, berpikir secara mistis. Sebelum akhir hidupnya, Kaduri berpesan bahwa sesudah kematian Ariel Sharon maka akan terungkap tentang Mesias. Ariel Sharon meninggal Sabtu 11 Januari 2014. Kaduri meninggal  28 Januari 2006. Sebelum meninggal ia menitipkan surat pesan singkat untuk pengikutnya. Ia meminta agar surat tersebut dibuka setelah 1 tahun kematiannya. Dimana sebelum ia meninggal, katanya sih ia sudah bertemu dengan Mesias. Isi suratnya:
Reishei-Tivot of Mashiach:
Yarim Ha'am Veyojiakh Shedvaro Vetorato Omodim
Ini adalah huruf inisial yang menunjuk ke Yeshoshua atau Yeshua. Mengingat bahwa sebagian orang Yahudi tidak percaya Yesus sebagai Mesias, maka pesan Kaduri ini begitu penting bagi orang Yahudi pada zaman sekarang ini. Bagi orang yang sudah percaya kepada Yesus sebagai Mesias, pesan ini agaknya menjadi pesan yang lain, yaitu tentang kedatangan Mesias kedua kali. Padahal Kaduri di sini menunjuk bahwa Yehosua (Yesus) yang sudah datang itu adalah Mesias. Pesan ini semakin memuncak ketika muncul teori Four Blood Moon yang akan terjadi nanti pada saat Paskah 2014 dan 2015. Seolah-olah pesan ini menyatakan bahwa Mesias akan datang setelah peristiwa Four Blood Moon ini. Adapun  tanggal yang agak beragam di sini Four Blood Moon akan terjadi:

  • Passover 15/4/2014
  • Sukkot 8/10/2014
  • Adar 29 Nissan 1 20/3/2015
  • Passover 4/4/2015
  • Sukkot 28/9/2015
Beberapa orang ahli menyatakan bahwa ini adalah penggenapan dari Yoel 2, dan ini bukan gerhana bulan yang biasa, tetapi suatu badai antariksa karena tabrakan benda langit, atau jatuhnya meteor yang sangat besar, sehingga menimbulkan gempa besar dan pengaruh kepada warna benda langit lainnya. Hal yang memuat ini menjadi menarik adalah ini akan terjadi saat Paskah. Dari kalangan Ilmuwan menyatakan bahwa ini hanya gerhana bulan biasa. Tentu saja ini mendatangkan kebingungan di antara orang Kristen. Ada orang Kristen yang menyatakan bahwa kita sudah hidup di Perjanjian Baru, jadi tidak perlu lagi melakukan ritual Perjanjian Lama. tetapi ada golongan Kristen yang menganggap ini penting, berhubung karena "tanda-tanda" itu penting untuk orang Yahudi.

Sebanrnya tentang ke-Mesias-an Yesus lebih mudah diterima oleh orang yang belum mengenal Taurat sebelumnya (Yes 9:1). Menurut orang Yahudi, Yes 53:1 itu bukan menunjuk kepada Yesus. Hal ini yang membuat mereka sulit untuk menerima Yesus sebagai Mesias. Rabi Kaduri telah bertemu dengan Mesias sebelum ia meninggal, itulah pengakuannya. Dan ia ingin agar pengikutnya menjadi percaya kepada Yesus sebagai Mesias, dan tidak perlu menunggu lagi Mesias yang akan datang.

Ada orang bijak yang mengatakan bahwa "Mempunyai persiapan, rencana, menyatakan bahwa orang tersebut mempunyai iman". Ya tentu ini benar sekali. Dalam hal ini, kita harus mengerti tentang nubuatan dan tidak perlu takut. Jika kita merasa hidup kita lagi ga bener, ya harus bertobat dan dibenerin. Para kaum Mesianic sedang mempersiapkan diri dengan versinya mereka untuk segera bertemu dengan Mesias. Persiapan apa yang sudah kita lakukan untuk bertemu dengan Mesias? Kita hanya perlu percaya dan bersatu dengan Dia, Mesias, Kristus itu.

Masalah kapan Mesias akan datang, tidak seorang pun yang mengetahuinya. Hal yang dapat kita lakukan adalah mempersiapkan diri dengan tetap percaya kepada-Nya. Kitab Yohanes ditulis agar para pembacanya dapat percaya, dan terus percaya kepada Kristus Yesus Tuhan. Dalam kitab Yohanes juga dapat kita temukan karakteristik "percaya". Apa yang Yohanes pikirkan ketika menulis injil ini adalah agar pembacanya dapat keep on believing. Sehingga ketika Yesus datang kembali ke bumi, kita dapat dijemput-Nya sebagai mempelai yang berlayak.

Ketika Yesus memberikan tubuh dan darahnya, yang kita peringati dalam perjamuan kudus (1 Kor 11:23), Ia sedang meminang gereja-Nya degnan darah-Nya sendiri. Kebiasaan orang Yahudi ketika meminang mempelai perempuan, ia akan meminangnya dengan segelas anggur. Ketika itu sah disaksikan oleh orang-orang sebagai saksi, maka ia pulang ke rumah untuk mempersiapkan segala sesuatu. Menyampaikan maksudnya kepada orangtua dan keluarganya. Sementara mempelai perempuan harap-harap cemas menantikan kapan datangnya mempelai pria untuk melangsungkan pernikahan. Demikian juga kedatangan Kristus. Kita sebagai gereja, mempelai perempuan harus menyiapkan diri untuk menyongsong kedatangan mempelai pria, Kristus, untuk menjemput kita di bawa ke rumah-Nya.

So... apapun nubuatan orang-orang tentang kedatangan Mesias, kita tidak peru takut. Persiapkan diri saja. Nanti akan banyak orang yang berkata, Mesias ada di sini.. di sana... Tetapi kita perlu untuk keep on believing.


 






Teman-teman, kitatidak hidup karena perkataan manusia. Mari kita mulai pelajari Alkitab dan temukan kebenarannya!

Sabtu, 18 Januari 2014

Generasi Baru

*artikel ini hanya diary hari ini...

Mengisi malam minggu dengan mengetik sebuah artikel. Sebenarnya badan ini lelah, ngantuk, kepala pusing tapi rasanya kekuatan masih ada, mau dikemanakan adrenalin yg berlebih ini klo ga mengerjakan sesuatu yang disukai.

Hari ini sangat luar biasa. Rasanya puas bisa berbagi dengan anak-anak sekolah. Bangun kepagian, membangunkan alrm yang jam 4an itu. Kemudian cerita ini dimulai....

Kami memberikan training leadership di satu sekolah internasional, dan saya nyempil menggantikan beberapa teman yang ga bisa keluar rumah karena kebanjiran. Pengalaman yg luar biasa. Memang bagi sebagian orang bukan sesuatu yang luar biasa banget tetapi bagiku pengalaman ini luar biasa. Dengan latar belakangku yang pelit bicara di depan public, hari ini jadi pribadi yang berbeda dari biasanya.

Saya kebagian di "Post Pancasila". Bukan post yang membuat "wow", saat mendengarnya. Tugas anak-anak hanya menyusun kata-kata yang dipotong2 menjadi susunan butir-butir pancasila. Hmm... ga nyangka klo mereka bias menyelesaikannya hanya dalam waktu 2-3 menit saja. Kemudian kami berdiskusi tentang Pancasila. Jawaban dari anak-anak SMU yang ga pernah disangka-sangka. Sebelumnya kami mendengar bahwa biasanya anak-anak internasional mempunyai semangat nasionalisme yang payah banget. Tetapi di sini kami dapat menyaksikan mereka punya semangat nasionalisme yang lumayan okey. Dari mulut anak-anak muda ini (*perasaan dah tua), saya bias mendengar opini mereka tentang negeri ini. Karena waktu masih tersisa banyak, sementara permainan sebenarnya sudah berakhir, maka saya pun berimprovisasi dengan memberikan pertanyaan-pertanyaan provokasi kepada mereka. Tujuan saya hanya mengajak mereka berpikir. Misalnya "apa yang ingin kamu sampaikan kepada Pak Jokowi klo kamu bertemu dengan beliau?". Jawaban-jawaban simple yang mereka lontarkan "Pak terima kasih", atau ada juga yang bilang "Pak tolong dong kemacetannya dikurangi". Kemudian saya tanya lagi "kamu punya ide apa untuk mengurangi kemacetan?". Ada jawaban yang sangat bagus "pengguna mobil dikurangi, harga mobil dimahalin, trus pada naik bus aja". Trus saya tanya kepada seluruh peserta yang ada di dalam grup (1 grup 10 orang), "emangnya kamu mau pergi ke sekolah naik bus?". Haha... 80% menjawab "mau". Wow.... luar biasa kan.

Masih banyak lagi pertanyaan-pertanyaan yang provokatif untuk mengajak mereka berpikir, tentang banjir, korupsi, dunia, dll. Dari jawaban mereka membuat saya belajar dan berefleksi diri. Anak muda butuh teman untuk berpikir. Mereka sangat suka untuk diajak berpikir oleh orang dewasa. Mereka hanya butuh dianggap dewasa, mereka ingin didengerin aja.

Kamis lalu, ketika komsel, ada pertanyaan yang bagus dari seorang teman "siapa sih next generation itu?". Sebelum pertanyaan itu dilontarkan, kami sudah berdiskusi tentang apa yang kita lakukan sehari-hari yang berdampak bagi the next generation. Menurut saya next generation adalah generasi yang akan menggantikan posisi kita nantinya. Well mungkin saudara ga setuju dengan saya, it's ok.

Tiga hari lalu saya merayakan 11 tahun datangnya saya ke kota ini (haha.. ga penting ya). Pesen gembala saya sebelum pergi "tetap ke gereja ya". Tetapi sebelumnya beliau bilang, klo mau pergi harus siapin dulu orang pengganti kamu sebelum kamu pergi. Artinya saya harus nyiapin pengganti saya sebelum pergi. Well... saya termasuk orang yg ga berhasil mempersiapkan secara langsung pengganti saya. Paling ga saya berhasil mempromosikan beberapa orang untuk "naik"  supaya mereka bisa lebih gila lagi dalam berprestasi. Intinya saya berhasil mempromosikan mereka (di kota asal saya) agar saya juga bisa mengejar mimpi saya. So... paling ga di kota asal saya, saya telah melihat my next generation (in music, banner dance, dll), bahkan mereka bisa lebih baik dari saya, membuat saya bahagia. apakah dengan demikian saya mendapat penghargaan, I don't care.

Mari kita melihat dunia, sekeliling, semua sedang sibuk mempersiapkan generasi baru, tunas muda. Lihat saja di tv. Mari kita membantu generasi di atas kita agar hikmat mereka bisa tersalur (dan tetap hidup) di generasi berikutnya. Jangan pernah takut kehilagan ide, jangan pernah takut kehilangan power. Justru  ketika kita merasa kehilangan power, segera... sesegera mungkin membangun generasi yang melanjutkan power itu. Dengan membangun generasi baru, mereka akan menghormati kita, sehingga power itu tetap ada. Hal yang saya titipkan kepada teman-teman anak-anak SMU, saya katakan "kita orang muda harus mengembangkan kreatifitas kita".  Karena saya selalu belajar kreatifitas dari orang muda, dan belajar hikmat dari orang tua. Saya sering mengamati bagaimana kreatifnya anak2 belasantahun ini. Makanya saya sangat bersemangat ketika diajak untuk memfasilitasi anak SMU.

Saya adalah produk "generasi baru" dari generasi sebelum saya. Saya sangat berterima kasih kepada mereka yang ga menolak saya ketika saya datang ke beliau-beliau dan saya katakan saya mau belajar. Sampe sekarang pun ada generasi sebelum saya yang mau ditanya, mau mementori, dengan senang hati berbagi ilmu. Kamsia bapa-bapa katua. hehe.

Ok deh... saya hanya ingin bilang please... kiranya kita tidak menolak the next generation yang sksd (sok kenal sok dekat), yg ingin belajar dari kita. Kita harus mengingat tujuan besarnya... God's purpose. Semoga saya berkenan mengajak saudara-saudari untuk mempersiapkan generasi berikutnya... hanya dengan sekadar mendengar, berbagi, menyemangati, bercerita "uhuukk..uhukk... opa dulu.. berjuang.... tapi Tuhan tolong... uhukk..uhuukk". Hehe.